FalyaNow my-Falya is... Lilypie Kids birthday PicAnd my-Khayra is...
Tulisan di blog ini hanya merupakan sharing dari saya. Tidak bermaksud menggurui siapapun. Jika bermanfaat, alhamdulillah. Jika tidak sesuai dengan pendapat Anda, saya mohon maaf dan agar dilupakan saja. Terima kasih...
Quiter Can Win
Saturday, March 16, 2013
Quiter Can Win
Saya sangat suka membaca artikel-artikel yang ditulis bapak Adi W.Gunawan.   Salah satu artikel yang saya suka adalah artikel ini.    Dulu saya juga seriiiinngggg mendengar ungkapan ini  "Winners never quit and quitters never win", biasanya disampaikan okeh para motivator suatu bisnis.  Apa iya???

Sejak awal saya tidak sependapat dengan ungkapan ini.  Aneh ya, jika kita berada dalam suatu lingkungan dimana kita sudah tidak mendapat suatu hal yang bermanfaat dari lingkungan tersebut, masa iya kita harus terus bertahan???   Sampai kapan?   Alasannya karena nanggung, haha... 

Saya sudah beberapa kali quit dari suatu lingkungan di mana saya sudah tidak merasa nyaman menjalaninya.  Dulu saya pernah ikut suatu bisnis, namun setahun kemudian koq saya tidak comfort dengan bisnis itu dan akhirnya saya Quit.  Menyesal? tentu tidak, selain saya tidak atau belum mendapatkan keuntungan finansial apapun dari bisnis itu saya pun tidak comfort dengan systemnya.  Saya pun pernah quit dari kantor dan pernah quit dari bisnis yang sudah saya tekuni selama 4 tahun.  Alasannya tentu macam-macam, intinya sih karena sudah tidak nyaman.   Tentunya urusan finansial juga berpengaruh.  Contohnya waktu saya quit dari kantor.  Hitung-hitungannya sudah tidak masuk lagi dibandingkan dengan pengorbanan saya meninggalkan anak-anak di rumah.  Namun Alhamdulillah Allah kemudian menggantinya dengan penghasilan dari bisnis.  Lalu bisnis yang saya sudah tekuni  tahun 4 tahun dan masih memberikan keuntungan yang sangat lumayan pun saya tinggalkan.  Yupp karena passion saya bukan di sana, dan lagi ada hal yang pribadi yang membuat saya pikir tidak lagi bisa membesarkan bisnis itu.  Bisnisnya mandeg walau masih profit.

Jadi bagi saya, apa yang salah jika quit dari suatu kantor atau suatu bisnis atau suatu lingkungan.  Setiap orang tentunya akan mencari kenyamanan, entah itu dari sisi finansial maupun batin, ukurannya berbeda-beda setiap orang.  Quit untuk mendapatkan yang lebih baik, why not?  Biasanya kita gampang quit jika passion kita terhadap pekerjaan atau bisnis tidak di situ.  Oleh karenanya tentukan passion Anda dan selaraskan dengan pekerjaan atau bisnis yang akan Anda tekuni.

Berikut artikel dari Pak Adi W.Gunawan yang saya copas dari http://www.adiwgunawan.com/?p=article&action=shownews&pid=28

Pembaca, saya yakin anda pasti pernah mendengar ungkapan, "Winners never quit and quitters never win", yang jika diterjemahkan menjadi, "Pemenang tidak pernah berhenti (mencoba) dan pecundang tidak akan pernah menang (karena berhenti mencoba)".

Tahukah anda siapa tokoh terkenal yang mendeklarasikan pernyataan di atas? Benar sekali. Beliau adalah Vince Lombardi, pelatih sepakbola Amerika yang mashyur.

Mungkin anda juga pernah mendengar perdana menteri Inggris, saat perang dunia kedua, Sir Winston Churchill berkata, "Never, never, never quit".

Nah, pertanyaan saya sekarang adalah, "Apakah anda yakin dan percaya serta menerima sepenuhnya apa yang dikatakan oleh kedua tokoh ini?"

Saya dulu sangat percaya. Bahkan saya menambahkannya dengan pernyataan, "Sukses diukur bukan dari tingginya pencapaian. Sukses diukur lebih berdasarkan seberapa besar hambatan yang berhasil kita atasi dalam proses mencapai sukses" dan "Tidak penting berapa kali anda jatuh, yang penting adalah berapa kali anda bangkit kembali setelah anda jatuh".

Lengkaplah sudah keyakinan saya ini. Berbekal keyakinan ini saya membuat keputusan untuk terus maju tak gentar membela yang benar... eh salah.. tak gentar menghadapi berbagai hambatan dan kesulitan dalam proses menuju sukses yang saya idamkan.

Setiap kali saya ingin berhenti, selalu tidak bisa. Mengapa? Ya itu tadi. Katanya, "Winners never quit and quitters never win". Jika saya berhenti maka saya menjadi seorang pecundang. Wah... siapa yang mau jadi pecundang? Karena tidak mau dikatakan sebagai pecundang inilah yang membuat saya terus maju tak gentar, selama tujuh tahun, mengejar impian tanpa melakukan analisis kritis terhadap situasi dan kondisi kehidupan pribadi saya. Saya menggunakan jurus "pokoke". Pokoke maju terus.

Semua ini diperparah lagi dengan kepercayaan "Tidak ada orang gagal. Semua orang pada dasarnya orang sukses. Mereka gagal karena mereka berhenti terlalu cepat". Ck.. ck.. ck... betapa berbahayanya kepercayaan ini.

Nah, pembaca, setelah mendengar sekilas kisah saya, dan melihat judul artikel ini saya yakin anda pasti tahu ke mana arah pembahasan yang akan saya lakukan. Sebelum saya teruskan saya ingin bertanya kepada anda. Anda jawab jujur ya. Apakah anda juga pernah atau sedang  mengalami hal yang sama seperti yang saya alami? Bersyukurlah bila anda belum. Bersyukurlah juga bila ternyata anda telah mengalaminya seperti saya. He..he..anda tidak sendirian.

Pertanyaan kritis yang seharusnya kita ajukan adalah, "Benarkah winners never quit and quitters never win?" Bagaimana kalau pernyataan Vince Lombardi di atas kita plesetkan sedikit menjadi "Quitters can win if they know the right reasons, the right way,and the right time to quit ".

Saya mendapat banyak email dan sms dari pembaca buku saya. Saya melihat satu pola yang sama yaitu umumnya mereka berkeluh kesah mengenai hidup mereka. Ada juga yang mengeluh mengenai bisnis yang sedang mereka jalankan. Bisnis ini telah dijalani selama beberapa tahun tapi belum membuahkan hasil seperti yang mereka inginkan. Mereka sangat ingin berhenti tapi nggak bisa. Alasannya nanggung nih... sudah dijalankan beberapa tahun. Kan sayang kalau berhenti di tengah jalan. Waktu saya kejar lebih jauh ternyata mereka meyakini apa yang telah saya uraikan di atas. Intinya, jika berhenti mereka akan menjadi pecundang. Benarkah seperti itu?

Keengganan berhenti atau quit  juga terjadi di aspek kehidupan lain. Ada seorang rekan yang telah menjalin hubungan dengan seseorang pria selama hampir sepuluh tahun, dan dia tahu hubungan ini tidak akan ke mana-mana, dan dia tahu pacarnya ini bukan tipe pria yang bertanggung jawab, namun ia tidak berani quit atau memutuskan untuk putus. Waktu saya tanya apa alasannya kok nggak berani putus dan cari pasangan lain yang lebih cocok, jawaban yang saya terima sungguh mengejutkan saya, "Lha, saya kan sudah pacaran hampir sepuluh tahun. Kalau harus memulai dari awal lagi rasanya berat bagi saya. Selain itu usia saya sekarang juga sudah hampir 30 tahun. Sulit mencari pasangan dengan usia saya sekarang ini. Rugi dong kalo saya berhenti sekarang".

Wah... ini jawaban yang kurang pas. Menikah kan untuk seterusnya. Lha, kalau ternyata waktu pacaran saja sudah begini modelnya trus.. mau jadi apa nanti waktu sudah menikah? Saya hanya bisa geleng-geleng kepala saja karena bingung. Kalau dilihat sepintas rekan saya ini tampaknya nggak mau rugi. Mungkin masa pacaran yang sudah sepuluh tahun ini dianggap sebagai masa investasi. Dengan demikian ia telah menghitung ROI (return on investment) dan berapa potential loss yang mungkin terjadi jika ia quit.

Pembaca, apakah kita boleh quit?

Tentu boleh. Siapa yang berhak melarang? Kan ini hidupnya kita sendiri. Kita mau quit atau terus itu urusan kita. Orang lain nggak boleh ikut campur. Satu hal yang harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh yaitu saat kita quit, kita harus quit dengan alasan yang tepat. Tidak asal quit.

Untuk yang ini saya serahkan sepenuhnya pada anda. Kita harus jujur pada diri sendiri. Apakah kita quit karena kita memang malas, tidak termotivasi, tidak tahan menderita, kurang ulet, ataukah kita quit karena kita, setelah bekerja sangat keras dan berusaha dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati, melakukan whatever it takes, massive action dengan burning desire, sampai pada satu kesimpulan bahwa apa yang kita lakukan ternyata tidak sejalan dengan value atau nilai-nilai hidup kita.

Quit di sini jangan diartikan hanya untuk orang yang belum berhasil mencapai sesuatu. Quit yang saya uraikan di sini juga berlaku bagi mereka yang sebenarnya telah berhasil mencapai kesuksesan pada level tertentu namun merasa hambar dengan hidup mereka.

Saya pernah membaca kisah seorang financial consultant, di Jakarta, yang sangat sukses dengan karirnya, pada usia 40 tahun, memutuskan untuk quit dan banting setir menjadi seorang pelukis. Benar, anda tidak salah baca, menjadi seorang pelukis.

Tentu tidak mudah melakukan hal ini. Banyak kawannya yang berkata bahwa ia gila karena meninggalkan karir yang begitu cemerlang, karir yang telah memberikan hasil yang begitu besar, khususnya di aspek finansial. Namun apa jawaban si financial consultant ini? "Saya merasa jauh lebih tenang, damai, dan bahagia dengan menjadi seorang pelukis. Ini adalah impian yang saya kubur sekian lama. Sekarang saya telah menjadi orang yang bebas mengekspresikan diri saya sendiri" jawabnya lugas.

Nah, pembaca, pada contoh di atas, yang terjadi adalah seringkali seseorang mendaki tangga kesuksesan, dan setelah mencapai puncak tangga, ia baru sadar ternyata tangganya bersandar di tembok yang salah. Nah, kalau begitu apa yang harus dilakukan? Ya banting setir seperti si financial consultant ini.

Mengapa sampai bisa terjadi tangga bersandar di tembok yang salah dan kita tidak tahu atau menyadarinya? Jawabannya sangat sederhana.

Apa itu?
Kebanyakan kita tidak merancang hidup dengan hati-hati dan saksama. Manusia pada umumnya menjalani hidup asal-asalan. Mereka tidak punya peta kehidupan yang akan mereka jalani. Bagaimana caranya agar bisa punya peta kehidupan? Ya, kita rancang sendiri, dong.

Bagaimana cara merancang peta kehidupan?
Di berbagai buku pengembangan diri, seminar motivasi, seminar sukses, dan berbagai program video yang saya pernah pelajari, umumnya kita diminta untuk membuat daftar impian tertulis. Impian ini harus lengkap meliputi berbagai aspek kehidupan. Ada aspek spiritual, finansial, bisnis-karir, materi, sosial, keluarga, kesehatan fisik dan mental. Sayapun dulunya melakuan hal yang sama dengan yang dianjurkan.

Namun seiring dengan berkembangnya kesadaran diri melalui proses pembelajaran dan perjalanan hidup, saya akhirnya menyadari satu hal yang selama ini luput dari perhatian saya. Ternyata untuk menyusun impian tidak asal susun. Pemahaman yang saya dapatkan, dan ini yang sekarang saya bagikan kepada para peserta seminar, workshop, dan kepada khalayak ramai melakui buku-buku yang saya tulis, yaitu menyusun impian yang benar hanya bisa dilakukan dengan satu syarat. Dan syarat inilah yang selama ini tidak diperhatikan kebanyakan orang.

Apa itu?
Langkah awal menyusun impian adalah dengan mencari tahu, menetapkan, dan menyusun nilai-nilai hidup (value).
Lho, mengapa value? Kok bukan berdasar pendidikan yang kita jalani?

Value adalah apa yang kita yakini sebagai hal yang penting bagi hidup kita. Value berperan sebagai kompas yang mengarahkan perahu kehidupan kita. Jika dihubungkan dengan cerita mengenai "tembok yang salah" maka yang dimaksudkan dengan "tembok" sebenarnya value.
Dengan value sebagai fondasi maka impian yang disusun tidak akan menyimpang dari tujuan hidup kita. Dengan demikian saat kita mencapai puncak kesuksesan kita justru akan semakin semangat dan bahagia. Untuk mengukur pencapaian seseorang sebenarnya bisa dilihat dari seberapa bahagia kita saat kita mencapai impian.

Mengapa bukan berdasar pendidikan formal kita?
Karena ada begitu banyak orang yang salah jurusan, saat kuliah di perguruan tinggi. Saya pernah memberikan konseling pada seorang wanita, dokter umum usia 29 tahun, yang sedang mengambil spesialisasi menjadi dokter tulang (orthopedist). Wanita ini mengaku bahwa ia sebenarnya tidak suka dengan jurusan yang saat ini ia tempuh. Ia merasa letih sekali. Padahal ini baru di tahun pertamanya.  Waktu saya tanya, mengapa kok diteruskan, kok nggak berhenti saja?  Jawabannya, sama seperti jawaban yang biasa saya terima, "Sudah kepalang basah, Pak. Kalo berhenti sekarang, trus... ngapain saya kuliah di kedokteran umum?"
"Lho, dulu kok bisa milih masuk kedokteran?" tanya saya lagi.
"Ya, soalnya katanya Om saya, kalo jadi dokter, hidupnya enak" jawabnya.
"Trus... kenapa kok pilih tulang, kok bukan spesialis yang lain?" kejar saya.
"Sebenarnya saya lebih suka jadi spesialis anak. Tapi jurusan ini sangat sulit dimasuki. Saya sudah coba tapi nggak bisa. Saya hanya dapat kesempatan spesialisasi tulang. Daripada nggak bisa kuliah lagi, ya saya masuki saja", jawabnya enteng.

Kisah ini sangat berbeda dengan kisah kawan saya, Lan Fang, di Surabaya. Lan Fang dulunya adalah seorang agen asuransi yang sangat berhasil. Namun hatinya selalu gelisah. Ia merasa asuransi bukan dunia yang sesuai dengan panggilan hatinya. Lan Fang senang menulis. Sambil menjadi agen asuransi ia telah menulis beberapa novel yang ternyata sangat berhasil.

Cukup lama Lan Fang bimbang. Ia dipersimpangan jalan. Namun setelah menimbang-nimbang, setelah melakukan perenungan mendalam, Lan Fang akhirnya memutuskan untuk mengikuti suara hatinya, menjadi seorang penulis buku, full time.

Banyak yang menyayangkan Lan Fang berhenti sebagai agen asuransi mengingat potensinya yang sangat luar biasa. Namun Lan Fang memutuskan quit dengan alasan yang tepat, di saat yang tepat, dan dengan exit strategy yang tersusun dengan baik dan matang.

Sampai saat ini Lan Fang telah menulis delapan novel. Diantaranya Reinkarnasi, Laki-laki Yang Salah, Perempuan Kembang Jepun, dan Kota Tanpa Kelamin.

So... siapa bilang quitters never win? Seringkali the real winner adalah mereka yang berani quit. Dan the real loser justru mereka yang bersikeras berkata, "Never, never, never quit". Anda perlu hati-hati agar tidak menjadi winner di antara para loser karena anda adalah yang paling tidak mau quit.

Widifayra
MAU TURUN BERAT BADAN??? MAU LANGSING???

Awali Dengan SARAPAN SEHAT

Silahkan email/BBM/Whatsapp ke saya di:

akulangsing@gmail.com
PIN BB 25D2C485 (Widi) atau 29F17298 (Khaerul)
08999-120-899 / 0813-8802-7272 / 0819-555-1188
whatsapp : +62-899-9120-899 atau +62-819-555-11-88

Labels: , , , , ,


posted by Widifayra @ 6:58 am   0 comments
Pengalaman Tinggal di Apartment
Wednesday, February 13, 2013
Pengalaman Tinggal di Apartment

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya kami akan merasakan tinggal di apartment.  Selain bagi kami membeli atau menyewa apartment itu pasti mahal, juga ada beberapa aktivitas yang tidak bisa dilakukan di apartment, contohnya berkebun/menanam bunga.  Sebenarnya bisa juga sih menanam bunga di pot, namun tentunya sangat terbatas.

Sejak suami saya dipindahkan ke luar Jakarta, otomatis rumah dinas yang selama 5 tahun ini kami tempati harus kami tinggalkan.  Kami sempat menjadi ‘penghuni gelap’ di rumah dinas ini selama 1.5 tahun sejak suami saya dipindahkan ke luar kota 1.5 tahun terakhir ini.  Namun karena sudah didesak untuk keluar, kami pun kasak kusuk mencari rumah.  Kami bukannya tidak mau keluar dari rumah dinas, namun saya masih takut untuk tinggal di lingkungan lain.  Kalau di komplek rumah dinas kan tetangga adalah orang kantor semua jadi sudah seperti saudara.  Komplek pun dijaga oleh satpam dan hanya ada 1 gate yang bisa dillewati mobil.

Sebenarnya rumah yang kami taksir sudah dapat namun baru bisa kami tempati sekitar bulan Mei karena rumah tersebut masih harus direnovasi.  Jaraknya sih hanya  sekitar 3 km dari rumah dinas namun traffic menuju ke komplek itu sangat macet saat jam berangkat dan pulang kerja.  Kasihan anak saya Falya yang berangkat dan pulang sekolah dengan metromini.  Untungnya jalan menuju komplek tersebut sementara diperlebar namun diperkirakan akhir tahun ini baru rampung.  Oleh karenanya saya belum berkeinginan untuk tinggal di sana.

Awal Januari setelah Liburan tahun baru, malam-malam pap menelpon saya  dan meminta saya segera mencari rumah kontrakan.  Aduhh panic deh karena saya tidak tahu harus tinggal dimana terutama lingkungan mana yang aman buat kami.  Yang terpikir adalah mencari kamar kost.  Segera saya membuka laptop dan browsing mencari rumah kost sekitar komplek rumah dinas.  Kami sengaja mencari sekitar rumah dinas agar gampang jika ada apa-apa yang kami  butuhkan masih lumayan dekat dengan teman-teman kantor suami.  Selain itu akses ke sekolah kedua anak saya juga lebih gampang.

Tanpa sengaja saat browsing kami menemukan situs sewa apartemen yang berada dekat komplek.  Harganya cukup mahal sih bagi kami untuk ukuran unit 35-37m2 (1 kamar dan 1 kamar mandi), hampir sama sewanya bila kami menyewa rumah sekitar komplek dengan 4 kamar namun sebenarnya terhitung murah untuk suatu apartement.  Yupp apartment ini memang apartment kelas menengah, bukan yang lux.   Dengan alasan keamanan di apartement lebih ‘terjamin’ akhirnya kami memilih apartement.  Selain itu letaknya di pinggir jalan sehingga akses Falya naik metromini lebih gampang.  Hanya berjarak 200m dari komplek lama dan jarak 200m dari sekolah Khayra.  Di lantai bawah apartment juga ada Supermarket Superindo, jadi kalo membutuhkan sesuatu lebih mudah. 

Hari Sabtu saat papi ke Jakarta, kami segera ke apartment dan bertemu dengan marketing yang sebelumnya sudah kami hubungi.  Ternyata unit yang kami taksir sudah tersewa sehari sebelum kami datang.  Beberapa unit lain yang ditawarkan oleh marketing pertama ternyata tidak cocok (mahal padahal unfurnished).  Sempat lemes kami berdua sambil duduk di lobby depan apartment.  Tiba-tiba saya ingat bahwa saya masih punya 1 lagi number contact marketing yang lain apartment ini.  Segera saya menelponnya dan Alhamdulillah sang marketing langsung datang dan menunjukkan unit yang akan disewa.  Saat ditunjukkan unitnya kami langsung suka.  Dengan uang sewa Rp.2.5jt/bulan (termasuk service charge dan parkir mobil) untuk luas unit 35m2 full furnished kami rasa cukup terjangkau untuk ukuran apartment.  Minimal sewa 6 bulan ditambah deposit dan semuanya harus dibayar di muka.  Transaksi segera kami lakukan hari itu juga.  Legaaaa....

Sepulang kami dari Bali, besoknya saya langsung mengangkut baju ke apartment. Berkali-kali saya harus bolak balik memindahkan baju, buku sedikit dan peralatan dapur.  Seminimal mungkin barang saya bawa ke sana.  Lha iyalah mau ditaruh di mana dalam ruangan sekecil itu?

Beberapa hari menjalani hari hari di apartment semakin membuat saya dan anak-anak kerasan.  Ternyata menjalani hidup dengan ‘minimalis’ selain hemat uang juga hemat waktu.  Dengan hanya membawa baju kurang lebih separuh dari yang ada, peralatan dapur hanya sekitar 1/4 ternyata kami tetap bisa menjalani hari-hari yang nyaris tidak ada perbedaan.  Bahkan sangat praktis dan simple.  Saya bisa masak sambil mengajari Khayra main piano, atau sambil mengajari pelajaran.  Bahkan sambil menunggu masakan atau gorengan matang, saya bisa setrika dan mendengarkan Khayra main piano.  Koq bisa?  Yah karena semua aktifitas itu masak, nonton, setrika, dan piano berada di ruang yang sama.  Kamar mandi pun di samping dapur dan langsung terlihat dari ruang TV.  Jadi kalau Khayra lagi mandi sendiri bisa langsung terlihat dari dapur atau ruang TV.  

Waktu masih di rumah dinas, karena rumahnya gede (sekitar 250m2), kalau pagi super heboh deh saya.  Jarak antara dapur-kamar sekitar 10 m, sama halnya jarak dapur-kamar mandi dan kamar mandi-kamar.  Saya tidak bisa meninggalkan dapur sebelum masakan matang karena sifat pelupa saya, takut gosong.  Hadeuuhhh benar-benar olah raga pagi lari ke sana kemari.  Setelah masak, barulah saya rehat sejenak di kamar sambil suapin Khayra.  Biasanya tiap pagi kan jadwal latihan piano, jadi saya harus menggeret Khayra yang sering malas-malasan ke ruang tengah untuk latihan.  Untungnya sekolah Khayra dimulai pk 07:45, itu pun masih dekat dengan rumah jadi bisa mepet-mepet berangkatnya.   Setelah Khayra berangkat sekolah barulah saya bisa istirahat.  Kalau di apartment paling lambat jam 7:15 Khayra sudah siap berangkat sekolah.  Setrikaan pun jarang menggunung.  Selain tidak ada tempat, juga bisa setrikaan sambil melakukan aktivitas lain.

Di apartement juga sudah ada teknisi  yang standby di basement, sehingga jika ada sesuatu yang bermasalah seputar  unit/rumah misalnya keran bocor, pintu terkunci, atau jendela rusak, tinggal telepon ke teknisi deh.  Asyik kannn????  Swimming pool dan Gym juga tersedia dan gratis untuk penghuni..

Sayangnya , di apartment yang saya sewa ini karena kecil, jadi tidak ada ruang tamu.  Bayangkan luas 1 unit apartemen ini sama dengan luas kamar utama+kamar mandi dalam yang kami tempati di rumah dinas.  Jika ada tamu ya ketemu di lobby bawah yang hanya ada 2 set kursi tamu untuk 300 penghuni!.  Masuk ke unit ini pun pertama kali yang ditemui adalah dapur digabung dengan ruang makan!  So bagi yang ingin bertandang ke unit ini untuk ketemu saya, mohon maaf harus infokan terlebih dahulu ya...  Kan ya ga lucu, tiba-tiba datang dan tamunya harus masuk melewati dapur yang you know-lah biasanya berantakan...

Namun apapun itu tetap kami syukuri.  Saya hanya merasa bersalah kepada kedua anak saya karena mereka jadi tidak bebas bermain seperti waktu tinggal di komplek rumah dinas.  Alhamdulillah anak-anak mengerti.   Saya katakan kepada anak saya, katanya semua mau kuliah di London.  Biasanya anak kuliahan tinggalnya di apartemen.  Nah sekarang ini masa-masa belajar yaa...sekaligus bisa seolah-olah merasakan sudah tinggal di apartement di luar negeri.   Inshaa Allah cita-cita kalian terkabul.  Bukankah kegelapan yang paling pekat adalah saat menjelang dinihari?  Setelah gelap pekat, datanglah pagi yang cerahhhh.  Bukankah pelangi yang indah selalu didahului dengan hujan???
   




Widifayra
MAU TURUN BERAT BADAN??? MAU LANGSING???

Silahkan email/BBM/Whatsapp ke saya di:

akulangsing@gmail.com
PIN BB 25D2C485 (Widi) atau 29F17298 (Khaerul)
08999-120-899 / 0813-8802-7272 / 0819-555-1188
whatsapp : +62-899-9120-899 atau +62-819-555-11-88

Labels: ,


posted by Widifayra @ 12:22 pm   3 comments
Wanna Go to Paris.....
Wednesday, January 09, 2013
Wanna Go to Paris.....
Khayra: "Mommy...aku bosen ke tegal, maunya ke Paris aja"
Mommy: @#$%^&**&*%$# (jauh banget Dek, bandingannya Tegal vs Paris)...

Setiap ada waktu senggang, saya selalu memperkenalkan negara lain kepada kedua anak saya sambil membuka foto-foto keindahan negara Eropa.  Hal ini bertujuan agar anak-anak punya mimpi untuk melihat negara lain.  Setiap saat mereka omongin tentang Paris dan Paris.  Sebelumnya anak saya Falya ingin ke Jepang.  Cara yang sama saya terapkan padanya.  Segala pernak-pernik negara Jepang ditempel dimana-mana.  Alhamdulillah setahun kemudian Falya bisa ke Jepang dengan gratissss...
Tidak ada salahnya bermimpi, gratis kan...  Berikan proposal hidupmu kepada Allah SWT.  Biarkan Allah dengan pensil dan penghapus-Nya menghapus atau mencoret bagian mana yang sesuai atau tidak sesuai untuk kita...  Jika proposal pun kita tidak punya, jangan salahkan Allah jika hidup kita biasa saja.  Lha jika tidak mengajukan proposal hidup ke Allah, apa yang harus Allah approve?
Let's go to the next dream.... 

Mau Langsing dengan cara MUDAH, SEHAT dan AMAN?

Silahkan email/BBM/Whatsapp ke saya fotocopy KTP Anda dan hubungi saya di:

akulangsing@gmail.com

PIN BB 29F17298

08999-120-899 / 0813-8802-7272 / 0819-555-1188

whatsapp : +628999120899

Labels: , ,


posted by Widifayra @ 1:10 pm   0 comments
Hikmah
Saturday, January 05, 2013
Hikmah

Liburan semester ini seperti biasa kami akan menghabiskannya di Tegal.  Rencananya kami akan berangkat ke Tegal hari Minggu siang tanggal 23 Desember 2012 karena hari Sabtu pagi saya masih harus ke sekolah anak saya –Falya- untuk mengambil raport.  Jadwal kereta api ke Tegal 2x sehari  yakni jam 11:00 siang dan jam 18:45. Namun saya lebih nyaman berangkat siang karena sore sudah sampai di Tegal. 

Ternyata rencana menjadi berubah setelah mba Amy-President Team Herbalife- istri dari  pak Hadi Kuntoro mengabarkan ke saya bahwa akan ada pertemuan Herbalife (STS) di Tegal pada hari Minggu pagi tanggal 23 Desember.  Wuihhh semangat deh saya mau ikutan STS.  Segera saya menelpon suami untuk membeli tiket kereta api ke Tegal untuk hari Sabtu malam tanggal 22 Desember .  Saya takut kehabisan tiket maklum hari Sabtu itu kan hari terakhir sekolah/ penerimaan raport, otomatis sorenya orang-orang sudah pada berlibur keluar kota.  Suami saya menunda-nunda pembelian tiket walau setiap hari sudah saya ingatkan, alasannya tidak sempat membeli.  Suami saya baru beli tiket 4 hari kemudian.   Dan ternyata tiket untuk hari Sabtu sudah habis.  Bukan main marahnya saya karena saya sudah mewanti-wanti dari jauh hari namun suami meyakinkan saya bahwa tiket pasti ada.  Yah terpaksalah kami berangkat ke Tegal hari Minggu siang.  Untuk acara STS di Tegal biar suami saya saja yang ikut.  

Belakangan saya sangat bersyukur kami tidak jadi berangkat hari Sabtu 22 Desember.  Hari Sabtu sekitar jam 2 siang langit di Jakarta mulai gelap.  Hujan pun turun sangat-sangat deras dari biasanya.  Angin pun sangat kencang, belum lagi suara kilat yang menggelegar.  Kami bertiga: saya-Falya-Khayra sedang tidur-tiduran di kasur seraya saya mengatakan kepada anak-anak betapa beruntungnya kita di saat hujan begini kita masih bisa menikmati saat santai di tempat tidur, bercanda sambil menikmati udara yang sejuk.  Beberapa menit kemudian teriakan Khayra mengagetkan kami.   Ini untuk pertama kalinya terjadi sejak rumah ini direnovasi 2 tahun yang lalu.  Khayra menunjuk ke tembok kamar yang ternyata sudah dialiri air dari plafond.  Segera saya meminta Falya mengambil baskom atau ember di tempat cucian untuk menampung air hujan yang merembes.  Belum habis kekagetan saya, terdengar suara Falya dari belakang/ruang cuci memanggil saya.  Saya pun bergegas ke belakang.  Oh my God, ruang cuci kami kebanjiran air dari balkon atas/ruang jemur.  Saya pun berlari menuju parit depan.  Biasanya kalau ruang cuci kebanjiran itu karena parit di depan mampet oleh sampah daun.  Namun kali ini parit depan ternyata tidak mampet dan air mengalir lancar. Lalu mengapa ruang cuci kami kebanjiran?  Saya pun lari kembali ke belakang dan mencoba merogoh saluran air mungkin ada sampah yang nyangkut.  Tapi tidak ada sampah yang nyangkut di saluran air ruang cuci.  Masih kebingungan mengatasi banjir, Falya kembali berteriak dari kamar.  Air mengalir deras dari plafond dan jatuh di lubang kabel AC.  Ya Allah apalagi ini...  Yang bisa kami lakukan hanya dengan menampung air hujan yang mengalir dari plafond dengan ember.  Untungnya hujan mereda sehingga banjir di ruang cuci pun surut.  Sekitar jam 5 sore kami baru bisa sedikit bernafas lega.
 
Ya Allah inikah jawaban mengapa kami tidak mendapatkan tiket utuk Sabtu sore?  Bagaimana jika kami jadi berangkat hari Sabtu sore ini.  Di saat lagi bersiap-siap menunggu taksi yang akan mengantarkan ke stasiun, banjir melanda ruang cuci dan bocor yang lumayan deras di kamar kami?  Bagaimana mungkin saya meninggalkan rumah dalam keadaan bocor dan banjir?

Tidak hanya itu alasan Allah menunda keberangkatan kami ke Tegal.  Dari berita di TV dan detik.com, Sabtu sore itu, jalan Thamrin macet total.  Bahkan Bus Trans Jakarta pun tidak bisa menembus jalan Thamrin karena banjir!!!  Seluruh jalan menuju Stasiun Gambir dari arah rumah kami terputus.  Dan karena kami ke stasiun Gambir dengan Taksi, saya yakin tidak akan ada taksi yang bersedia mengantarkan kami ke sana, bahkan mungkin untuk menjemput kami ke rumah pun tidak bisa karena macet dimana-mana.  Otomatis tiket kereta kami bertiga kan hangus (berarti uang Rp.165rb x 3 tiket melayang dengan sukses) dan belum tentu kami bisa mendapatkan tiket untuk jadwal keberangkatan esok harinya. 

Tidak henti-hentinya saya bersyukur akan hal ini.  Apalagi besok harinya langit cerah dan satu jam sebelum kami berangkat ke Tegal, saya berhasil meminta tolong tukang bangunan untuk memperbaiki genteng kami yang bergeser yang menyebabkan air hujan jatuh ke plafond.  Alhamdulillah...

Hikmah yang saya dapatkan dari kejadian ini bahwa janganlah menghujat atau menyesali jika ada rencana kita yang sudah disusun rapih dan sudah diupayakan semaksimal mungkin ternyata mengalami hambatan atau penundaan.  Yakinlah bahwa itu semua adalah rencana Tuhan yang terbaik untuk kita.  Pasti ada hikmah di balik semua itu.  Allah sudah tahu apa yang terbaik buat hamba-Nya.




Widifayra
MAU TURUN BERAT BADAN??? MAU LANGSING???

Labels: ,


posted by Widifayra @ 6:04 am   0 comments

LANGSING & SEHAT

TOKO BAJU ONLINE

TOKO BAJU ONLINE

RAHASIA RUMAH GRATIS

RAHASIA RUMAH GRATIS

KLIK DISINI RAHASIA MENDAPATKAN RUMAH GRATIS !!! GRATIS E-BOOK SENILAI Rp.200.000,- PERSEDIAAN TERBATAS !!!

BINGUNG MENGATUR KEUANGAN ANDA???

CHECK UP FINANCIAL

SOLUSINYA DISINI !!!

About Me

Widya Astuti's Profile
Widya Astuti's Facebook profile

Click My Profile Picture To See Me @ FACEBOOK

Name: Widifayra
Home: Pos Pengumben, Kb. Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta, Indonesia
About Me: Nama saya Widya Astuti, biasanya dipanggil WIDI. FAYRA adalah gabungan nama 2 putri saya(FAlya-12 th dan khaYRA6 th). Lulusan PTN di Bogor dan pernah bekerja di salah satu Bank Swasta di Jakarta sebagai marketing kredit. Saat ini sebagai WAHM (Work At Home Mom), berbisnis untuk lebih mengembangkan potensi diri...dengan dukungan rekan-rekan yang super hebat di komunitas TDA.
Email: widifayra@yahoo.co.id
Kategori
Previous Post
Links
Bisnis
Kesehatan
Pendidikan
Comments

count webpage visits
Aku Langsing




Member of

JOIN TDA

Rekan TDA