FalyaNow my-Falya is... Lilypie Kids birthday PicAnd my-Khayra is...
Tulisan di blog ini hanya merupakan sharing dari saya. Tidak bermaksud menggurui siapapun. Jika bermanfaat, alhamdulillah. Jika tidak sesuai dengan pendapat Anda, saya mohon maaf dan agar dilupakan saja. Terima kasih...
PENTINGNYA MENABUNG & INVESTASI
Thursday, November 17, 2011
PENTINGNYA MENABUNG & INVESTASI
Bang bing bung yokkita ke bank
Bang bing bung yok kita nabung
Tang ting tung yok jangan dihitung

Tahu-tahu kita nanti dapat untung



Ini lagunya tante Titiek Puspa, lagu anak-anak supaya mereka gemar menabung. Lagu ini sudah lama tapi kenapa masih banyak orang yang susah menabung.


Saya sudah terbiasa melihat ibu saya menabung dari saya kecil. Dari menabung itulah, saat saya kelas 2 SMP ibu sudah bisa beli rumah BTN tipe 36/150 yang jaraknya saat itu jauuuhhh dari kota. Katanya tempat jin buang anak. Padahal sih cuma sekitar 13 km dari pusat kota tapi saat itu tahun 1986 sudah jauh banget. Waktu sudah dibeli belum langsung ditempatin karena ibu kudu nabung lagi untuk menambah area belakang untuk bikin pagar (awalnya pagar bamboo yang murah). Awalnya tidak terbayang ibu bisa membeli rumah, maklum ibu saya hanya guru SMAN dan single parent.


Saat saya SMP saya dibekali uang yang mana selama 1 bulan saya tidak boleh minta lagi. Uang itu untuk jajan + Transport ke sekolah by angkot (kalau di Makassar namanya pete-pete). Dari uang jajan itu saya bisa menyisihkan untuk beli jeans atau baju yang sesuai selera saya. Seingat saya sejak itu saya selalu membeli baju dari hasil menabung uang jajan. Maklum duit ibu saya terbatas saat itu. Penghasilan ibu hanya dari mengajar (SMAN, SMP Swasta, Bimbingan test) dari jam 7 pagi - 9 malam. Bukan main pengorbanan ibu saya (Semoga Allah menempatkan beliau di tempat paling indah di sana. Aamiin…). Taraf hidup kami baru meningkat sejak ibu berdagang baju dari Jakarta (Makanya jadi pedagang saja, rejeki pasti lebih besar daripada jadi pegawai hehe…).


Menabung jadi kebiasaan saya sampai sekarang. Tapi saya sudah membuktikan manfaatnya. Apalagi sejak saya kenal investasi. Kadang heran kalau ada yang mengeluh ke saya kekurangan duit, tiap bulan minus. Padahal saya tahu persis gajinya berapa kadang sama dengan kami bahkan kadang jauh lebih besar. Tapi memang gaya hidupnya yang ga nahan. Ga juga sih mewah tapi kadang barang yang tidak diperlukan dibeli juga sekalipun dengan nyicil. Tolong ya nyicil… Apalagi pakai kartu kredit yang bunganya sampai 3.5%/bulan!!! Tapi yang dari teman kantor saya yang notabene orang bank, yang selalu kasih nasihat ke debitur, yang tahu hitung-hitungan investasi, trus temen kantor suami, keluarga, banyaaaaakkkk...…yang ga bisa nabung. Akhirnya tersiksa sendiri di akhir bulan.


Hhmm… ini pesan ibu saya yang berkaitan dengan uang: "Saat Anda punya uang lebih orang lain tidak perlu tahu dan saat Anda tidak punya uang orang lain pun tidak perlu tahu". Tahu maksudnya??? Artinya saat Anda punya duit lebih ga perlu dipamer dalam artian bela beli macam macam sampai akhirnya semua orang tahu Anda lagi banyak duit, tapi saat ga punya duit orang lain juga tahu karena Anda sibuk pinjam kesana kemari.


Kami membeli rumah pertama kami saat saya hamil anak pertama. Saat itu usia pernikahan kami 7 bulan dan suami saya sudah bekerja selama 1 tahun 8 bulan (di kantor yang sekarang) dan ± 7 bulan di kantor sebelumnya. Rumah BTN di Balikpapan saat itu kami beli seharga Rp. 21 jt. Rumah standar banget tipe 36/120. Keunggulannya letaknya di tengah kota. Hanya 3km dari kantor papi. Sebelumnya kami juga ngontrak selama 7 bulan di komplek ini jadi sudah kenal dengan tetangga. Rumahnya masih ga layak tinggal, kecil banget jadi langsung kami bongkar sedikit dan ditambah full ke belakang dan samping. Duitnya dari mana ya? Gini, setamat kuliah saya membawa pulang duit sebanyak Rp.12 jt. Duit itu dari hasil tabungan saya. Setiap bulan sejak saya kuliah tingkat 2, saya dikasih 100rb (IDR) dari bapak saya (walau sudah divorced dengan ibu saya). Terkadang saya dikasih juga dari Oom. Atau kelebihan uang bulanan dari ibu saya (waktu saya kuliah penghasilan ibu sudah cukup mapan dari berdagang). Saya lulus tahun 1998 saat krismon dan suku bunga melonjak jadi 70%/tahun. Waktu itu saya langsung kerja di bank Panin Makassar dan saya menyimpan duit saya di deposito selama 9 bulan (September 98-Juni 99). Duit saya melonjak jadi 18,3 juta ditambah dari nabung sebagian gajiku dan gaji papi, akhirnya kami bisa membeli rumah seharga 21jt + renovasi 25jt. Tadinya hitung-hitungan tukang langganan kantor, biaya renovasi hanya 12.5 juta, ternyata melonjak 100%. Untungnya pembangunan berjalan lambat selama 10 bulan baru selesai, jadi kami bisa mengumpulkan duit lagi. Duit renovasi kami sebenarnya hanya 20jt, ibu saya nyumbang 5jt untuk pasang lantai keramik (Thanks a lot mom…I love u so much…miss u like crazy…hiks…).
 

Selama 2 tahun berumah tangga kami memakai motor butut papi dari jamannya SMA kali’ yang dikirim ke Balikpapan. Kemana-mana kami bertiga naik motor. Pernah suatu waktu pulang dari dokter hujan deras jam 9 malam dan kami pulang bertiga dengan motor dengan memakai jas hujan. Saat ibu saya tahu, kami dipaksa beli mobil. Saya menolak karena duit kami masih sedikit. Ibu saya meminjamkan duitnya seraya mengatakan bayarnya bisa kapan aja. Waduh berat sekali waktu itu, tapi ibu saya terlalu sayang cucunya ga tega kalau kehujanan. Kami membeli mobil Feroza tahun 1994 (jadi umur mobil itu saat kami beli sekitar 7th). Alhamdulillah beberapa bulan setelah mobil itu dibeli, saya diterima kerja di Bank Bumiputera (sekarang namanya ICB Bumiputera). Mobil itu juga berjasa waktu saya harus test kesana kemari sambil menitipkan anak kami –falya- di kantor papi. Waktu saya kerja, seluruh gaji saya ditambah gaji papi langsung dipakai untuk membayar utang keibu. Ibu saya sudah melarang, toh saya sebagai anak tunggal tidak bakal ada yang keberatan. Tapi saya ga betah punya utang. Ga sampai 2 tahun utang kami lunas. Setelah utang kami lunas, seluruh gaji saya dipakai untuk investasi. Setiap bulan saya setor ke berbagai bank biar saya ga tengok2. Di kantor saya juga saya membuka tabungan anak. Tahun 2004 ada penawaran rumah dekat rumah kami, tanahnya lebih luas type 40/140. Harganya Rp. 140jt. Dp 30% sekitar 45 juta. Intip2 deposito saya di bank lain, dijumlahkan eh ternyata nyampe 45jt walau receh demi receh hehe….Saya cairkan deposito di BTN, tabungan anak di kantor saya dan bank lain. Saya berani cairkan tabungan anak karena ini rumah ke-2 dalam artian membeli rumah ini untuk investasi. Anak saya masih 4 tahun. Untuk biaya kuliah masih lama. Kalau sudah SMA tidak boleh mencairkan tabungan investasi anak karena menjual rumah terkadang butuh waktu sementara jadwal kuliah sudah di ambang pintu. Alhamdulillah jadilah kami membeli rumah ke-2 kami. Masih nyicil sih, cuma 1jt/bulan. Rumah itu saya kontrakkan. Harga pasar rumah itu sekarang sekitar 350-400jt.


Kebetulan di kantor saya memegang bagian tabungan dan investasi. Waktu itu baru mulai diperkenalkan Reksadana dan kantor kami jadi salah satu agent. Sayalah yang bertanggung jawab untuk itu. Belum ada pelatihan dari kantor so biar pede masarin produknya saya belajar sendiri via internet di kantor papi, sekaligus saya invest di situ. Semakin mendalami semakin tahu dan semakin yakin invest di reksadana.


Tahun 2007 kami pindah ke Jakarta. Rumah pertama kami dijual. Sebenarnya harga pasarnya 160jt namun karena yang beli tetangga pas di samping rumah yang baiiiikkkk banget ke keluarga kami saya lepas dengan 140jt. Rumah itu laku bulan Agustus 2007. Bulan November 2007 saya membeli franchise salon MOZ5. Total dengan sewa ruko, renovasi dll habis 150-an juta, memakai duit hasil penjualan rumah. Alhamdulillah salon berjalan baik, sudah balik modal dan sudah memberikan keuntungan (Sayangnya karena sesuatu dan lain hal memasuki tahun ke-5 salon saya lepas ke franchisornya. Saya ingin meniti bisnis sendiri yang sesuai dengan passion saya. Insya Allah jalannya mulus seperti selama ini. Aamiin).


Hasil dari salon saya pakai untuk membeli dinar, reksadana, LM, dll. Yah diputer-puterin aja. Selain hobby ternyata menghasilkan. Kebiasaan menabung tiap bulan dari hasil usaha dan gaji papi masih kami tabung, investasi dll. Tidak ada kata boros. Namun bukan berarti kita tidak bersenang2. Semuanya bisa kita jalankan. Investasi, bela beli, jalan2 asal sesuai dengan persentase dari penghasilan yang sudah kita patok. Dari gaji, honor mengajar, kelebihan duit SPJ semua perlakuan sama : semuanya kami buatkan persentase. Memang persentase untuk investasi masih lebih besar karena kami bercita-cita agar anak2 bisa kuliah di luar negeri. Juga budget untuk uang sekolah dan les persentasenya juga besar. Pendidikan sama saja dengan investasi. Yah kira2 sesuailah dengan kebutuhan. Pokoknya semua untuk anak-anak. Anak2 juga kami ajarkan untuk tidak boros. Kami hampir tidak pernah gonta ganti gadget. HP, laptop kami beli seperlunya. Kami bahkan tidak pernah menjual HP lalu diganti yang baru karena bagi kami selama HP tsb masih bagus dan masih sesuai kebutuhan kami ya tetap dipakai. HP diganti saat sudah rusak atau baterainya sudah aus atau fiturenya dah ga sesuai lagi. Sering ada yang nanya pin BB saya dan saya jawab saya tidak pakai BB. Eh ditanya balik, koq ga pakai BB? Please deh bukannya ga sanggup beli BB. Sampai saat ini fiturenya BB tidak terlalu kami butuhkan. Saya tetap tidak terpengaruh untuk beli sampai akhirnya muncul android yang kebetulan fiturenya sesuai dengan keinginan saya, ya saya belilah Experia Sony Ericson. Papi juga baru2 ini beli Samsung tablet karena butuh saat rapat dengan berbagai pihak. It’s ok kami beli, kebetulan dananya ada, dan bukan nyicil lho.


Bagaimana dengan anak-anak? Walaupun anak saya yang pertama bersekolah di SMP RSBI yang notabene sebagian besar anak orang berada, hampir ¾ di kelasnya memakai BB, saya tetap tidak bergeming untuk membelikan. Bahkan walaupun anak saya sanggup membeli sendiri saya tetap tidak membolehkan. Justru saya khawatir dengan BBM. Namanya anak SMP, dengan sms saja mereka betah ngobrol apalagi dengan BBM yg unlimited. Kapan belajarnya? Bagi saya lebih banyak mudharatnya. Kalau sms saya bisa membatasi dengan menjatah dana untukpulsa. Anak2 juga saya ajar untuk bisa menahan diri, tidak gampang terpengaruh dengan lingkungan. Kalau memang belum butuh kenapa harus membeli. Demi gengsi? Tinggalkanlah gengsi. Apalagi bila membelinya dengan nyicil, duh mau bergaya padahal belum mampu. No way. Alhamdulillah selama kami menikah kami hanya pernah menyicil rumah di bank dan mobil di ibu saya. Yang masih berjalan ya nyicil rumah. Kalau barang konsumtif, tidak pernah sekalipun kami nyicil. Untuk apa ‘menyumbang’ bank? Harusnya kita memikirkan bagaimana duit yang ada bisa berkembang, bukan malah sebaliknya. 


Demikianlah sharing saya tentang menabung dan investasi. Sama sekali tidak bermaksud narsis. Hanya sharing agar semakin banyak orang yang sadar akan pentingnya menabung dan investasi. Mengutip kata-kata bijak pak Jamil Azzaini sang motivator sukses mulia: 


“Yang pasti, gengsi menjadikan banyak orang hidupnya merana sedangkan investasi menjadikan kehidupan kita semakin lama semakin bergengsi. So, mari kita berinvestasi dan kuburlah gengsi!”


Widifayra 
MAU TURUN BERAT BADAN??? MAU LANGSING???

Labels: , , , ,

posted by Widifayra @ 5:45 pm  
2 Comments:
  • At 22 January 2012 3:18 am, Anonymous masigit said…

    Saya berkata: setuju banget, kita juga harus menyiapkan untuk supaya kita bisa pensiun dg tenang :-)

     
  • At 29 November 2013 9:17 am, Anonymous armanida,SSiT said…

    Anda luar biasa mbak, I like it, semoga kebiasaan menabung mbak bisa d contoh,semoga pengalaman mbak bisa bermanfaat utk saya dan orang lain. Sukses selalu

     

Post a Comment

<< Home
 

LANGSING & SEHAT

TOKO BAJU ONLINE

TOKO BAJU ONLINE

RAHASIA RUMAH GRATIS

RAHASIA RUMAH GRATIS

KLIK DISINI RAHASIA MENDAPATKAN RUMAH GRATIS !!! GRATIS E-BOOK SENILAI Rp.200.000,- PERSEDIAAN TERBATAS !!!

BINGUNG MENGATUR KEUANGAN ANDA???

CHECK UP FINANCIAL

SOLUSINYA DISINI !!!

About Me

Widya Astuti's Profile
Widya Astuti's Facebook profile

Click My Profile Picture To See Me @ FACEBOOK

Name: Widifayra
Home: Pos Pengumben, Kb. Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta, Indonesia
About Me: Nama saya Widya Astuti, biasanya dipanggil WIDI. FAYRA adalah gabungan nama 2 putri saya(FAlya-12 th dan khaYRA6 th). Lulusan PTN di Bogor dan pernah bekerja di salah satu Bank Swasta di Jakarta sebagai marketing kredit. Saat ini sebagai WAHM (Work At Home Mom), berbisnis untuk lebih mengembangkan potensi diri...dengan dukungan rekan-rekan yang super hebat di komunitas TDA.
Email: widifayra@yahoo.co.id
Kategori
Previous Post
Links
Bisnis
Kesehatan
Pendidikan
Comments

count webpage visits
Aku Langsing




Member of

JOIN TDA

Rekan TDA