FalyaNow my-Falya is... Lilypie Kids birthday PicAnd my-Khayra is...
Tulisan di blog ini hanya merupakan sharing dari saya. Tidak bermaksud menggurui siapapun. Jika bermanfaat, alhamdulillah. Jika tidak sesuai dengan pendapat Anda, saya mohon maaf dan agar dilupakan saja. Terima kasih...
Diagnosa Dokter
Wednesday, February 01, 2012
Diagnosa Dokter

Bulan April 2010 Khayra pernah dirawat selama 6 hari di RS.P di petamburan dengan indikasi panas tinggi hampir 40 derajat Celcius. Memang ada flu sedikit dan batuk. Saat itu kami ke UGD dan disarankan untuk dirawat. Daripada khawatir di rumah ya sudah kami menyetujui. Seperti biasa dokter langsung memberikan antibiotic melalui infus. Memang keesokan harinya panasnya menurun dan harusnya saat hari ke-3 bakteri di badannya sudah habis dibasmi antibiotic. Hari ke -3 ternyata masih panas dan batuk serta agak sesak. Khayra lalu dirontgen dan indikasinya kena pneumonia/bronchitis ringan. Dokter lalu memberikan antibiotic gram positif atau negative saya tidak terlalu mengerti. Besoknya panasnya menurun dan hari ke-6 saat antibiotiknya habis kami diperbolehkan pulang dan datang control 3 hari ke depan. 
Dua hari di rumah Khayra kembali demam ringan. Saya hanya memberikan obat penurun panas. Dan keesokan harinya saat datang control saya menceritakannya ke dokter. Dokter penasaran dan melakukan tes mantoux untuk indikasi TBC. Tiga h ari kemudian kami datang lagi untuk melihat hasil tes. Ternyata negative. Tanda merah yang terbentuk hanya berupa titik bekas suntik. Padahal terindikasi positif TBC jika terdapat lingkaran merah sekitar bekas suntik kurang dari 1cm. Karena saat ittu Khayra sudah tidak panas maka tidak lagi diberikan obat.

Seminggu kemudian Khayra demam lagi meski ringan. Saya datang lagi ke RS.P dengan memilih dokter anak yang lain (Dokter KT) yang katanya dokter anak senior di RS.P agar mendapat second opinion. Dokter ini meminta tes darah dan rontgen ulang (padahal baru 2 minggu lalu rontgen dan hasilnyanya sudah dilihatnya juga). Saat mengambil hasil rontgen saya mengintip hasilnya yang ditulis oleh dokter ahli rontgen. Alhamdulillah semua baik. Lega dong saya. Namun kelegaan saya hanya sementara. Dokter KT saat melihat hasil tes darah (LED=laju endap darah tinggi, yang lainnya normal) dan hasil rontgen langsung menyimpulkan Khayra kena TBC. Aduh serasa lemas badan ini. Bagaimana mungkin Khayra kena TBC. Saat diperiksa Khayra sudah tidak batuk maupun sesak. Batuknya hanya 3 hari saat dirawat di RS minggu lalu. Khayra hanya demam. Saat itu Khayra masih belum sekolah dan hampir 24 jam Khayra selalu bersama saya. Orang serumah pun tidak ada yang batuk. Asisten RT juga hanya 2-3 jam di rumah lalu pulang itu pun dia tidak batuk dan tidak pernah berdekatan dengan Khayra. Lingkungan rumah saya di dalam komplek yang bersih. Rumah pun tidak lembab malah kami baru 2 minggu masuk ke rumah kami ini setelah 2 bulan direnovasi (selama direnovasi kami pindah ke rumah tapi masih dalam 1 kompleks). Saya perlihatkan ke dokter rekam medis sebelumnya bahwa baru minggu lalu Khayra tes mantoux dan hasilnya negative. Kata dokter KT bisa saja tes mantoux tingkat 1 hasilnya negative dan harus dites mantoux tingkat 2. Saya keberatan untuk tes mantoux lagi karena tes mantoux itu sakit sekali. Jarum disuntikkan ke bawah kulit. Tidak tega saya. Saya protes lagi dengan mengatakan hasil rontgen Khayra bersih. Dokternya tetap ngotot mengatakan ada bercak2 putih di paru-paru Khayra. Patokan dokter itu hanya hasil LED Khayra yang tinggi. Dokter itu lalu memberikan Khayra obat yang harus diminum selama 3 bulan. Karena saya peserta Inhealth tentu saya harusnya dikasih resep yang ditanggung asuransi Inhealth, tapi kata dokter KT, obat itu sudah tidak manjur. Lalu Khayra diresepkan obat TBC impor dari Jerman kalau saya tidak salah (lupa pastinya dari Negara mana). Yang jelas saya harus menebus sendiri harga obat tersebut sekitar Rp.350rb untuk 1 bulan. Bulan depannya haruus control lagi baru akan diberikan resep untuk ditebus. 
Tiba di rumah saya segera membuka milis sehat groups.yahoo.com/group/sehat/ dan menceritakan semuanya ke peserta milis. Milis ini dimoderatori oleh dr. Purnamawati, dokter yang menganut RUM (Rules of Medicine), yakni pemberian obat hanya saat benar-benar diperlukan. Sambil menunggu jawaban peserta milis, saya browsing dan mencari tahu tentang TBC. Ada 8 indikasi untuk mengetahui apakah seseorang terkena TBC dan jika dari 5 (kalau saya tidak salah ingat) pertanyaan jawabannya “Ya” maka benar positif TBC. Dari 8 pertanyaan hanya ada 1 pertanyaan yang benar terjadi pada Khayra yakni demam. Semakin yakin saya kalau anak saya negative TBC. Berikut 8 ciri-ciri TBC pada dari milis SEHAT :
1. Mempunyai sejarah kontak erat dengan penderita TBC dengan hasil pemeriksaan dahak BTA yang positif, biasanya orang dewasa (yang namanya kontak erat itu, tinggal serumah dengan penderita atau walaupun tidak serumah tapi sering sekali berdekatan dengan anak (minimal 8 jam sehari selama 6 bulan).
2. Tes mantoux anak positif ( ada pembengkakan di tempat yang diuji dengan mantoux kurang dari 10mm), ini kalau status gizi anaknya normal. kalau anak kurang gizi, biasanya dipakai patokan kurang dari 5mm.
3. Gambaran rontgen paru yang mendukung TBC paru.
4. Adanya reaksi kemerahan yang cepat ( dibawah 1 minggu ) setelah imunisasi BCG
5. Batuk-batuk lebih dari 3 minggu.
6. Sakit dan demam lama atau berulang tanpa sebab yang jelas, yang maksudnya tidak jelas ini adalah tidak jelas sakitnya. jadi kalau anak demam tapi ada tanda-tanda influenza atau common cold berulang ya tidak masuk kriteria ini.
7. Berat badan turun tanpa sebab jelas atau tidak naik dalam 1 bulan meskipun sudah dengan penanganan gizi yang baik.
8. Gejala-gejala klinis yang spesifik TBC diluar TBC paru, kaya di tulang ataupun otak.

Tidak perlu menunggu lama, pertanyaan saya langsung mengundang banyak tanggapan. Semuanya sepakat agar mencari second opinion karena hampir semua yang anaknya pernah diindikasikan TBC ternyata menurut dokter lain tidak. Saya menelpon tante saya yang berprofesi sebagai suster senior di RS PLMN di Makassar. Beliau pun melarang saya memberikan obat itu karena efeknya bisa ke lever.
 
Saya segera mencari dokter lain. Pilihannya ke dokter Waldy. Dokter ini juga penganut RUM. Sayangnya dokternya lagi keluar kota sehingga saya browsing lagi. Teman saya Lyra merekomendasikan dokter di RS Ibu dan Anak B di Menteng. Segera saya dan Khayra meluncur ke sana. Dan kesimpulan dari dokter itu yakni paru-paru Khayra bersih dan TBC negative. Khayra dikasih antibiotic untuk flu. Malamnya saya memberikan obat antibiotic ke Khayra. Obat TBC itu tidak saya minumkan. 
Masih penasaran, keesokan harinya saya mendaftar lagi ke dokter Waldy. Alhamdulillah dokternya ada. Saya membawa 2 hasil rontgen. TDokter Waldy pun mengatakan paru-paru Khayra bersih sekali. Saya menunjuk ke hasil rontgen yang pertama. Ini juga bersih, katanya. Alhamdulillah. Khayra hanya kena batuk biasa terlihat dari hasil tes darah leukositnya di bawah normal, kenapa ibu sampai merawat anak ibu di RS? Dokter Waldy bertanya dengan agak marah. Saya bilang waktu itu dokter jaga di UGD menanyakan ke saya, ”Gimana bu, anak ibu dirawat saja?”. Sebagai ibu tentu saya serahkan ke dokter memilihkan yang terbaik. 
‘Yahhh ditanya ke dokter pasti langsung disarankan masuk RS, kan seneng dokternya” kata dokter Waldy sambil tertawa.
Khayra tidak apa-apa hanya flu saja. That’s all. Bisa sembuh sendiri. Berikan saja treatment alami di rumah seperti makanan yang hangat, tidak minum es. Jika tidak diperlukan jangan memakai AC. Berjemur di matahari pagi juga bagus. Obat antibiotic dari dokter RS B disuruh dibuang saja karena tidak diperlukan. Kami lalu diceramahin tentang anak sekarang yang kesehariannya dalam ruangan dengan full AC, mulai dari rumah, mobil, sekolah. Bagaimana tidak sakit melulu kalau ada teman sekolahnya yang sakit sementara udara dalam kelas tidak berputar. Di rumah dan di mobil juga demikian. Hhmmm kami pulang tanpa membawa resep obat (seingat saya setelah itu kami sering ke dokter Waldy mungkin sekitar 4-5 kali dan belum pernah 1 kali pun diresepkan obat). Dokter Waldy hanya memberikan surat pengantar ke laboratorium untuk periksa urine dikhawatirkan infeksi saluran kemih (hasilnya kami peroleh seminggu kemudian dan ternyata negative). Sayangnya lokasi praktek/rumah dokter Waldy cukup jauh dari rumah, dan macet banget menuju ke sana. Jadi kalau saya tidak membutuhkan second opinion atau Khayra hanya sakit flu biasa, saya tidak akan ke sana.

Beberapa hari kemudian Khayra tidak demam lagi walau tanpa diberikan obat. Alhamdulillah...
 
Selesai masalah? Ternyata tidak Saudara-saudara. Sejak dirawat itu Khayra sering sekali flu berlanjut batuk. Terkadang demam juga. Hampir tiap bulan Khayra tidak masuk sekolah. Saya jarang ke dokter anak dan hanya memberikan obat yang diberikan oleh dokter umum di kantor. Yah cuma batuk pilek saja obatnya ya itu-itu juga. Saya heran, dulu Khayra sangat jarang sakit. Mungkin dari lahir sampai sebelum dirawat tidak sampai 10 kali Khayra sakit dalam 4 tahun. Saya curiga daya tahan Khayra melemah sejak diberikan antibiotic dosis tinggi. Saya perhatikan Khayra juga punya alergi. Mungkin saat dia batuk berat sampai dirawat di RS karena bau cat rumah yang menyengat dan bekas debu setelah kami pindah ke rumah yang baru direnovasi. Terhadap obat pun Khayra alergi. Pernah ibu saya memberikan obat Bodrexin tablet saat Khayra demam, beberapa menit kemudian kulitnya bertotol-totol merah melepuh. Waktu itu saya masih ngantor dan segera minta suami saya menjemput untuk mencarikan kelapa hijau. Perubahan cuaca dari dingin ke panas (atau sebaliknya) pun membuat badannya gatal-gatal seperti digigit semut.
Setahun setelah Khayra dirawat, kembali Khayra demam tinggi. Saya curiga karena obat nyamuk bakar yang saya taruh di kamar belakang. Kamar itu tidak ditempati dan tempat saya menyimpan kain-kain yang mau dijahit. Mungkin baunya sampai ke kamar depan. Memang baru sekali itu saya memakai obat nyamuk bakar. Biasanya saya semprot tapi kurang manjur. Apa itu penyebabnya atau bukan yang jelas Khayra kembali terserang flu, batuk dan demam tinggi hingga 13 hari. Seminggu penuh Khayra tidak sekolah dan seminggu lainnya sekolah hanya 2-3 jam. Cerita lengkapnya bisa baca di http://widyafayra.blogspot.com/2011/07/juice-daun-pepaya-penurun-panas-alami.html. Kembali seorang dokter mengatakan Khayra kena thypus padahal hasil test widalnya negative. Tes widal bisa diketahui dalam waktu yang tidak lama setelah mengambil darah. Padahal menurut yang saya baca dari hasil browsing, tes akurat seseorang terkena thypus atau tidak diperoleh dalam waktu 1-2 minggu. Kebanyakan yang hasil tes widalnya positif pun setelah diteliti dites secara akurat ternyata negative. Walau obatnya saya tebus tapi kembali hati saya menolak dan mencari tahu tentang thypus. Ciri-ciri thypus pada Khayra pun negative. Tapi akhirnya saya menemukan resep obat dari daun papaya. Alhamdulillah sejak saat itu Khayra tidak pernah lagi meminum obat panas seperti sanmol dan teman-temannya. Untuk batuk pun saya sudah menemukan obat alami lagi. Bisa dibaca http://widyafayra.blogspot.com/2012/02/obat-herbal-untuk-bronchitis.html.

Demikian sharing saya. Walaupun kita bukan berprofesi sebagai dokter, saran saya jangan percaya sepenuhnya apa yang dikatakan dokter. Cari second opinion ke dokter lain, teman-teman atau bergabung di milis sehat. Banyak informasi kesehatan yang bisa diperoleh lewat internet.

Semoga bermanfaat.


Widifayra
Mau Langsing dengan Nutrisi Sehat Alami?
Just klik

Labels: , , , , ,

posted by Widifayra @ 5:42 pm  
0 Comments:

Post a Comment

<< Home
 

LANGSING & SEHAT

TOKO BAJU ONLINE

TOKO BAJU ONLINE

RAHASIA RUMAH GRATIS

RAHASIA RUMAH GRATIS

KLIK DISINI RAHASIA MENDAPATKAN RUMAH GRATIS !!! GRATIS E-BOOK SENILAI Rp.200.000,- PERSEDIAAN TERBATAS !!!

BINGUNG MENGATUR KEUANGAN ANDA???

CHECK UP FINANCIAL

SOLUSINYA DISINI !!!

About Me

Widya Astuti's Profile
Widya Astuti's Facebook profile

Click My Profile Picture To See Me @ FACEBOOK

Name: Widifayra
Home: Pos Pengumben, Kb. Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta, Indonesia
About Me: Nama saya Widya Astuti, biasanya dipanggil WIDI. FAYRA adalah gabungan nama 2 putri saya(FAlya-12 th dan khaYRA6 th). Lulusan PTN di Bogor dan pernah bekerja di salah satu Bank Swasta di Jakarta sebagai marketing kredit. Saat ini sebagai WAHM (Work At Home Mom), berbisnis untuk lebih mengembangkan potensi diri...dengan dukungan rekan-rekan yang super hebat di komunitas TDA.
Email: widifayra@yahoo.co.id
Kategori
Previous Post
Links
Bisnis
Kesehatan
Pendidikan
Comments

count webpage visits
Aku Langsing




Member of

JOIN TDA

Rekan TDA