| Bisnis Pertama Khayra |
| Wednesday, January 09, 2013 |
| Bisnis Pertama Khayra
Karena Khayra ngebet mau ke Paris, saya bilang nanti dicari duitnya dulu. Makanya nanti Ayu (panggilan sayangnya Khayra) jadi pengusaha aja biar duitnya banyak bisa kemana-mana, kata saya ke Ayu.
Sejak itu Ayu bercita-cita jadi pengusaha. Waktu ke tegal kemarin kami bertemu rekanan kerja suami saya. Beliau adalah seorang pengusaha yang cukup besar menurut saya. Dari 1 lini bisnisnya saja bisa menghasilkan pendapatan bersih Rp.8 juta/hari. Beum bisnis yanglain. Kami sempat mampir ke rumahnya yang bak istana, juga mampir ke tokonya. Mereka pun bercerita dapat bonus minimal 4 kali setahun jalan-jalan ke luar negeri dikasih sampai belasan tiket gratis. Wuihhh....
Ayu pun terkesima melihatnya. Apalagi Ayu ngebet mau ke Paris (aamiin...). Rupanya Ayu pun ingin belajar merintis jadi pengusaha. Langkah pertama, dia mengajukan proposal cincin ke saya untuk berjualan di TPA (Taman Pendidikan Alquran). Saya menyetujui. Dan alhamdulillah hari pertama laku 5 cincin, dijual Rp.1000/buah. Jika beli 2 gatis 1, padahal Ayu belum mengerti nilai uang. Ga apalah yang penting Ayu sudah berani menawarkan dagangannya. itu yang harus dibentuk dari kecil. Jangan seperti saya dulu yang didikte untuk jadi pegawai.
Kata Ayu duitnya mau ditabung untuk beli kotak musik yang ada boneka penari ballet di dalamnya. Kotak musik ini sudah lama Ayu ingin beli tapi tidak saya belikan. Biarkan kelak Ayu bisa beli sendiri dari hasil jualannya.
Mommy dan papi selalu doakan Ayu dan Kakak Falya kelak bisa menjadi pengusaha sukses dunia akhirat seperti cita-cita mereka. Aamiin...
Mau Langsing dengan cara MUDAH, SEHAT dan AMAN?
Silahkan email/BBM/Whatsapp ke saya fotocopy KTP Anda dan hubungi saya di:
akulangsing@gmail.com
PIN BB 29F17298
08999-120-899 / 0813-8802-7272 / 0819-555-1188
whatsapp : +628999120899
Labels: anak, anak berbisnis, anak bisnis, belajar bisnis, Bisnis
|
posted by Widifayra @ 1:39 pm  |
|
|
|
| Berhenti Minum Susu Botol |
| Monday, December 10, 2012 |
| Berhenti Minum Susu Botol
Postingan ini hanya untuk berbagi kisah pengalaman saya sewaktu berusaha mencari cara agar Falya (anak pertama saya) berhenti minum susu dari botol (ngedot).
Falya dari lahir sudah minum dot (hal yang saya sesali hik..hik...). Bukannya saya tidak mau memberi ASI tapi karena ASI saya terlambat keluar. Saya juga heran koq ASI saya tidak keluar di awal kelahiran Falya. Mana lagi Rumah Sakit Bersalin tempat Falya lahir sejak awal memberikan susu formula N*t*ilon ke bayi saya. Alhasil Falya tidak mau nyusu ASI sama sekali, tidak juga mau berusaha mengisap. Yah karena dengan susu dari botol dia kan tidak perlu bersusah paya mengisap susunya bisa langsung keluar. Rumah Sakit Bersalin juga tidak menyatukan saya dan bayi saya di kamar. Hanya diantar jika ingin disusui. Sedihnya bukan kepalang dan membuat saya stress yang justru malah membuat ASI semakin tidak keluar. ASI baru keluar 2 minggu saat Falya sudah lahap sekali ngedot dengan susu botol. Beratnya meningkat drastis dan begitu tergantung dengan susu botol. Akhirnya hanya sebulan Falya menyicipi ASI dari saya. Waktu itu internet belum lazim kayak sekarang dan info tentang cara menyusui masih terbatas banget.
Falya tergantung banget dengan susu botol. Kemana-mana dotnya tidak pernah ketinggalan. Umur 5 tahun Falya masih juga ngedot padahal bentar lagi akan masuk SD (Falya masuk SD umur 5 tahun 3 bulan). Bingung dong saya mencari cara menghentikan dia ngedot. Dotnya yang sudah jelek (karena sering digigit) sengaja tidak saya ganti supaya Falya tidak ngedot lagi rupanya tidak mempan. Akhirnya saya terpikir untuk minta tolong ke gurunya di TK. Saya menghadap ke guru minta pendekatan gurunya agar mau membujuk Falya berhenti ngedot. Biasanya kan anak-anak lebih nurut ke guru daripada ke orang tuanya. Gurunya pun menyanggupi.
Tebak apa yang terjadi setelah Falya pulang sekolah?
Saat saya pulang kantor, Falya tiba-tiba ngomong ke saya," Mama, Falya ga mau pake dot lagi". "Lho kenapa?" tanya saya (padahal girang banget nih..). "Tadi di kelas ibu guru bilang bahwa anak-anak tidak boleh ngedot lagi karena sudah gede mo masuk SD" jawab Falya. Falya pun menceritakan detail yang disampaikan gurunya di kelas. Ohhh rupanya gurunya secara tidak langsung meminta Falya berhenti ngedot tapi disampaikan di kelas. Gurunya pura-pura nanya," Siapa yang masih ngedot?". Tentu saja Falya (dan mungkin temannya yang juga masih ngedot) mengacungkan jarinya. Nah gurunya langsung deh ngomong di kelas bahwa tidak boleh ngedot lagi. Mungkin Falya malu disampaikan di depan kelas jadi sampai rumah dia langsung minta berhenti ngedot.
Malam itu Falya memang tidak ngedot lagi. Rupanya keesokan harinya Falya 'sakaw' susu botol. Falya kembali minta susu botol padahal sudah saya sajikan dalam gelas plus sedotan. Saya juga belikan susu kotak tetap saja Falya minta dalam botol. Saya keukeuh tidak mengabulkan. Wah Falya jerit-jerit sampai guling-guling badan di lantai." Sekaliiii...aja Ma huhuhu...." pinta Falya dalam jeritannya sambil menangis. Saya nyaris luluh karena kasihan, tapi saya coba bertahan. Mungkin 3 hari Falya 'sakaw' minta susu botol namun saya bertahan.
Alhamdulillah di hari ke-4 Falya mulai mau minum susu dari gelas. Mungkin karena capek menangis, capek berguling-guling tetap mamanya tidak kasih haha... Dan sekarang anakku Falya tersayang sudah tumbuh jadi gadis remaja... (tapi tetap masih doyaannnn sama susu. Kali ini susu kotak lho ya....) hehe...
Widifayra
MAU TURUN BERAT BADAN??? MAU LANGSING???
Labels: anak, cara berhenti minum susu botol, cara berhenti ngedot, falya
|
posted by Widifayra @ 11:45 am  |
|
|
|
| Batuk Pilek Sembuh Tanpa Antibiotik |
| Thursday, September 06, 2012 |
Batuk Pilek Sembuh Tanpa Antibiotik
Untuk kesekian kalinya saya mengabaikan resep dokter yang memberikan antibiotik untuk Khayra, dan alhamdulillah Khayra bisa sehat lagi tanpa antibiotik.
Membaca detik.com tentang http://health.detik.com/read/2012/09/05/105431/2008386/775/anak-pilek-batuk-kok-dikasih-antibiotik-jangan-mau?l991101755 kembali mengingatkan saya betapa dokter (dokter anak maupun dokter umum) sering banget meresepkan antibiotik untuk anak yang kena flu (batuk pilek). Seingat saya hampir setiap kali anak saya panas karena batuk pilek pasti dikasih antibiotik kecuali dokter Waldy, SpOG yang belum pernah meresepkan obat apapun setiap kali ke sana.
Hari Kamis minggu lalu (30 Agustus 2012), sekitar jam 11:30 saya menerima telepon dari guru kelas Khayra. Khayra tidak enak badan. Ini untuk kedua kalinya sejak Khayra sekolah di sini bulan Juli yang lalu. Kali pertama sekitar awal Agustus Khayra juga pulang cepat karena agak demam. Khayra memang agak batuk karena serumah (saya dan kk Falya) juga batuk. Waktu itu sekitar jam 11 saya jemput dari sekolah dan sampai rumah langsung saya kasih juice daun pepaya+madu+jeruk nipis sebagai obat turun panas dan juga obat batuk A*t*f*d. Tak lupa jamu kunyit, kencur jahe dan sirih. Sampai malam berulang kali saya kasih obat tradisional itu dan alhamdulillah paginya Khayra sudah tidak demam dan bisa pergi sekolah walau masih pilek.
Saat saya menerima telepon Kamis yang lalu bahwa Khayra kembali tidak enak badan saya tenang saja karena pikir saya toh pasti karena batuknya lagi. Sebelum menjemput saya mampir dulu ke apotik membeli obat batuk karena kebetulan habis (kk Falya juga minum obat itu karena flu). Sampai di sekolah Khayra sudah ada di lobby bersama gurunya. Herannya Khayra nangis dan mengeluh pusing banget sehingga akhirnya Khayra saya gendong. Kata Khayra dari pagi saat kelas montessori sudah merasa pusing banget mana lagi habis montessori Khayra ada test Math. Mungkin habis itu pusingnya semakin menjadi. Di perjalanan pulang ke rumah Khayra mengeluh mual dan saya pun memberikan plastik untuk menampung jika Khayra muntah. Sepuluh menit kemudian kami sampai di rumah dan Khayra tidak juga muntah walaupun masih mengeluh mual. Saya segera mendudukkan di kursi meja makan sambil mempersiapkan obat pusing untuknya (obat pusing ini juga sekaligus obat demam. Biasanya saya hanya memberikan obat ini jika panasnya melebihi 38,5 atau jika pusing banget). Belum juga obat saya berikan, Khayra keburu muntah. Plastik yang saya berikan tidak cukup menampung karena berupa air. Setelah Khayra saya seka di kamar mandi dan membersihkan lantai dan kursi makan yang kotor terkena muntahan, saya menggendong Khayra ke kamar. Obat kembali saya berikan dan Khayra minum banyak banget. Katanya biar cepat sembuh. Alhasil Khayra kembali muntah di kasur.
Saya pun berinisiatif membawa Khayra ke Rumah Sakit. Tujuannya sih untuk mendapat pengantar ke theraphy nebulizer. Maklum bunyi dahak saat Khayra batuk semakin menjadi. Memang sih sudah seminggu batuk berdahak, tapi karena Khayra feeling well saya tidak begitu teratur memberi jamu dan mengurut badannya dengan aromatheraphy oil. Penyesalan tidak berguna memang, hikksss... Daaannn hari Kamis ini memang rencananya mau saya bawa ke dokter anak untuk minta pengantar di-nebulize. Welahdalahh memang ke dokter anak tapi Khayra sudah keburu demam. Sampai di RS, dokter anaknya sudah pulang, terpaksalah Khayra diperiksa oleh dokter umum di ruang IGD (ruang yang sejak 3 tahun terakhir saya hindari banget). Saya langsung minta Khayra dinebulize karena terlihat sesaknya sudah mulai kambuh, tapi saya menolak di ruang IGD dan minta ke ruang fisiotheraphy. Dokter juga menuliskan resep obat untuk Khayra. Setelah selesai nebu, saya lalu menebus obat di apotik. Seperti biasa saya bertanya jenis obatnya daaaannnnn.....ada ANTIBIOTIK dalam resep selain obat flu dan batuk. Saya hanya menebus obat flu (racikan) dan obat batuk M*c*p**. Khayra kembali muntah saat saya gendong menuju mobil. Alhasil baju saya bagian belakang belepotan...
Setibanya kami di rumah, saya segera memberikan obat dokter itu (tentunya setelah mengganti baju yang kotor tadi). Apa daya beberapa menit setelah memberikan obat, Khayra kembali muntah. Bingung banget. Air putih pun membuat Khayra muntah. Alhamdulillah saya ingat untuk memberikan obat anti muntah Vo*e*a. Kk Falya segera saya mintakan tolong untuk membelikan di apotik. Ternyata manjur juga. Setelah minum obat anti muntah Khayra tertidur. Masih belum ada obat apapun yang masuk ke badan Khayra. Boro-boro mau saya kasih juice daun pepaya, air putih saja langsung keluar lagi.*sambil mengelap peluh*.
Jam 8 malam Khayra saya bangunkan untuk minum obat dokter dan jamu kunyit. Jamu kunyit dkk itu memang hampir selalu ada di kulkas namun untuk Khayra malam ini saya tambahkan lebih banyak lagi air rebusan daun sirih. Tengah malam jam 2 Khayra terbangun. Badannya masih hangat. Saya check dengan thermometer masih 37.9. Bingung juga saya karena hari Jumat di sekolah ada Festival Idul Fitri yang mana saya sudah menjahitkan baju muslim baru untuk Khayra. Tentu saja Khayra akan kecewa banget jika tidak bisa sekolah. Saya pun yang menjahit bajunya kilat dalam 1 hari waktu hari Rabu (soalnya saya kira festivalnya hari kamis) kecewa juga ingin lihat Khayra pakai baju muslim di sekolah. Tadinya sudah mau menyerah mau membeli antibiotik, tapi saya berusaha tidak tergoda. Jam 3 subuh saya tawarkan ke Khayra untuk minum juice daun pepaya. Saking inginnya Khayra ke sekolah, dia menyetujui. Subuh saya keluar halaman dan memetik daun pepaya. Langsung saya buat untuk segelas. Ditambah madu dan jeruk nipis, Khayra meminumnya sebanyak 4 sdm dan juga jamu kunyit sekitar 4 sdm. Tiap 1.5 - 2jam saya kasih ramuan itu. Jam 5 pagi saya cek suhunya 37.3. Sudah turun. Untuk sarapan saya buatkan bubur ditambah telur. Untungnya Khayra mau makan walau tidak banyak. Jam 7 pagi (biasanya jam segini sudah siap-siap berangkat sekolah) Khayra minta sekolah. Saya pastikan lagi apakah dia kuat sekolah dan Khayra menyatakan kuat. Ya sudah akhirnya diputuskan Khayra sekolah dan saya akan menunggunya di sekolah. Padahal sih sekolahnya cuma 500 meter dari rumah. Kalaupun Khayra sakit dan saya ditelepon, paling lama 5 menit sudah sampai sekolah. Tapi saya tidak tega juga, so lebih lebih aman saya tunggu di sekolah saja berbekal laptop dan modem untuk mengusir kebosanan. Sampai jam 11:30 semua aman dalam artian tidak ada sms/telepon dari gurunya. Gurunya sih ga tahu kalau saya menunggu di lobby. Kelasnya Khayra dan juga acara Idul Fitri diadakan di lantai 3. Jenuh menunggu saya pulang. Handphone standby di tangan saya takut kalau gurunya telepon saya. Jam 2 saya jemput Khayra di sekolah. Alhamdulillah Khayra baik-baik saja kondisinya.
Obat batuk dan flu masih terus saya berikan sampai habis. Begitu juga dengan juice daun pepaya dan jamu kunyit. Hari Senin badannya masih sedikit hangat. Batuknya sudah berkurang dan obat dokter sudah habis. Jamu kunyit terus saya berikan sampai hari saat saya menulis blog ini. Hanya saja frekwensinya hanya 2 kali sehari. Batuknya sudah sangat berkurang. Terutama sesaknya sudah tidak lagi. Nafasnya sudah tidak bunyi. Pileknya sudah hilang dan suhunya sudah normal.
Ohya selain obat herbal, saya juga rajin memijat Khayra dengan oil aromatherapy dari anisherbal.com. Sehari bisa 3 kali. Biasanya kalau sudah mulai batuk saya pijat dengan minyak ini beserta rangkaian pengobatannya (total ada 5 jenis oil) supaya pilek dan batuknya tidak berlanjut. Tapi yah namanya manusia terkadang malas saya. Jadinya udah keburu demam baru deh kalang kabut.
Kembali saya membuktikan bahwa batuk pilek doang tidak perlu antibiotik. Bahkan dari obat tradisional yang baru bisa saya kasih jam 8 malam (jamu kunyit) dan jam 3 subuh (daun pepaya), jam 8 pagi Khayra bisa beraktifitas lagi. Seandainya dari pulang sekolah Khayra ga muntah dan bisa minum obat herbal itu mungkin malam sudah bisa mereda sakitnya.Yah apapun itu semua kesembuhan dari Allah SWT. Sepanjang saya memijat badannya Khayra tak lupa saya bacakan surah Al-Fatihah berulang-ulang sambil memohon kesembuhan. Saya juga mencoba mengalirkan energi alam yang pernah saya ikut workshopnya. Juga saya pencet ujung-ujung jari kaki Khayra (seperti akupuntur) yang kabarnya ujung jari kaki berhubungan dengan saluran pernafasan.
Semoga kita senantiasa bisa memberikan yang terbaik buat anak kita. Aamiin...
Ini cerita pengalaman saya saat Khayra sakit: http://widyafayra.blogspot.com/2012/06/leukosit-turun-dengan-obat-alami.html http://widyafayra.blogspot.com/2012/02/obat-herbal-untuk-bronchitis.html http://widyafayra.blogspot.com/2011/07/juice-daun-pepaya-penurun-panas-alami.html http://widyafayra.blogspot.com/2012/02/diagnosa-dokter-yang-salah.html
Mau Langsing dengan Nutrisi Sehat Alami?
Just klik
Labels: anak, anisherbal, jamu antibiotik, Kesehatan, obat alami, obat bronchitis, obat panas alami, obat penurun panas
|
posted by Widifayra @ 8:34 am  |
|
|
|
| Chairul Tandjung Si Anak Singkong |
| Thursday, August 30, 2012 |
Chairul Tandjung Si Anak Singkong
Sudah lama saya ingin mengetahui latar belakang Chairul Tandjung yang namanya semakin berkibar belakangan ini seiring melejitnya nama Trans Corp sebagai perusahaaan milik pribumi (asli!!!).
Sekitar 10 tahun yang lalu saya tahu bahwa Chairul Tandjung (CT) adalah pemilik Bank Mega. Bank ini cukup fenomenal karena baru saja berdiri (tahun 1997) namun bank ini langsung dikenal masyarakat. Bandingkan dengan bank tempat saya kerja yang berdiri kalau tidak salah tahun 1990-an namun masih banyak yang masih asing dengan nama bank ini. Bank Mega juga merupakan bank 'saingan' kita dulu saat memasarkan produk.
Tidak lama setelah Bank Mega munculnya stasiun televisi baru: Trans TV. Trans TV pun langsung melejit bahkan menyaingi RCTI dan SCTV. Beberapa tahun kemudian adalagi stasin TV baru yakni Trans 7, tentunya punya CT juga. Duh siapa sih si Raja Midas ini?
Munculnya arena bermain indoor yang seperti Dufan : TRANS STUDIO di Makassar dan Bandung semakin melejitkan nama perusahaan milik CT. Apalagi kemudian CT membeli sebagian besar saham Carrefour dan menjadi pemilik koran online terkenal detik.com. Hebaaaatttt.....hebaaaaaattttt.....
Munculnya buku biography tentang CT langsung kami (saya, papi dan kakak) sambut baik, maksudnya langsung kami beli: buku Chairul Tandjung Si Anak Singkong. Dan isinya sungguh luar biasa....
 From Zero to Hero benar-benar berlaku di diri CT. Dari kemiksinan yang luar biasa bahkan nyaris tidak bisa membayar zakat Fitrah sampai menjadi sesukses sekarang. Saat ini CT tercatat memiliki kekayaan US$ 2,0 Milliar dan menjadi urutan 634 terkaya dunia versi Forbes 2012. Jumlah karyawan CT sekarang ini sebanyak 75.000 dan direncanakan menjadi 150.000. Jika dikalikan dengan jumlah anggota keluarga per karyawan, berapa banyak mulut orang yang menggantungkan 'makannya' dari seorang CT?
Sungguh saya menangis membaca penggalan kisah hidup CT:
 Banyak...banyak pelajaran yang saya dapatkan dari membaca buku ini. Banyak juga prinsip hidup dari ayahnya CT, Bapak A.G. Tandjung dalam memberikan pendidikan bagi anak-anaknya yang sangat sesuai dengan prinsip saya. Salah satunya yakni keteguhan sang ayah untuk menyekolahkan CT di sekolah yang beliau anggap terbaik saat itu yakni TK. Santa Ursula, SD dan SMP Van Lith. Sekolah Katolik yang terkenal dengan kedisplinannya. Walaupun CT berasal dari keluarga muslim taat bahkan neneknya seorang guru agama di SD negeri di Jalan Tepekong, Pasar Baru, ayahnya tetap menyekolahkan anaknya di sekolah yang terbilang jauuuh lebih mahal dibandingkan sekolah negeri. Padahal kondisi keuangan keluarga mereka yang sangat pas-pasan (bahkan untuk membayar zakat fitrah!!!). Pelajaran berharga bahwa demi masa depan anak, upayakan semaksimal mungkin memberikan pendidikan yang terbaik meskipun kita harus merogoh kocek dalam-dalam. Apapun pendidikan (formal maupun informal) yang sekiranya bisa membangkitkan potensi anak, upayakan berikan ke anak. Insya Allah keikhlasan orang tua akan mendapat ridho dari Allah SWT.
CT juga terang-terangan mengatakan bahwa pelajaran teater merupakan salah satu proses pendidikan yang benar-benar beliau pegang dalam menjalankan prinsip bisnis.
Selama ini pendidikan informal (pendidikan seni) banyak diabaikan oleh orang tua. Mereka lebih mau mengeluarkan duitnya untuk les pelajaran dibandingkan dengan les seni/olah raga. Padahal banyak ilmu seni yang diterapkan saat sudah terjun ke masyarakat entah itu menjadi pegawai atau pengusaha. Seni melatih intuisi, melatih mengendalikan diri, melatih bersosialisasi tentunya sangat diperlukan dalam pengambilan keputusan.
Satu hal lagi, karena bersekolah di sekolah elit, maka teman bergaul CT adalah ANAK orang kaya. Kata 'anak' sengaja saya tuliskan huruf besar karena yang kaya bukan si anak itu tapi orang tuanya. Seorang teman CT bernama Bambang, anak pegawai Bea Cukai yang mempunyai rumah besar dan sering menjadi tempat begadang CT dan teman-temannya saat latihan teter dan Volli. Di rumah Bambang pula CT baru merasakan tidur di kasur yang empuk dan wangi, dilayani Embak, disuguhi irisan pepaya dibalur perasan jeruk nipis. Oooo begini rupaya kalau orang kaya makan pepaya, guman CT (Buku CT si Anak Singkong hal 75). Ayah Bambang yang menjadi inspirasi CT saat awal-awal memulai usaha.

Bergaul dengan orang yang lebih sukses, lebih kaya jangan menjadikan kita minder. Justru menjadi pendorong kita untuk menjadi lebih dari mereka. Mata kita menjadi terbuka dan melihat ooohhh begini enaknya jadi orang yang 'lebih'. Hal ini selalu saya terapkan ke anak saya. Kebetulan saat ini kedua anak saya bersekolah di sekolah yang teman-temannya kebanyakan ekonomi(orangtua)nya melebihi kami dan terkadang anak saya kepingin seperti mereka. Saya pun mengatakan bahwa hal ini menjadi cambuk bagi kalian untuk melebihi mereka. Sekali lagi yang kaya bukan teman-teman mu mereka tapi orang tuanya. Tidak ada yang tahu nantinya di antara anak-anak saya dan teman-temannya siapa yang lebih sukses siapa yang lebih kaya. Sekalipun kami masih mampu untuk memenuhi semua permintaan anak-anak kami, namun dengan membatasi justru membuat anak-anak akan terpacu untuk mencapainya sendiri. Bukankah keterbatasan ekonomi CT yang menjadi 'batu pengungkit' sehingga CT menjadi sesukses sekarang ini?
Saya memajibkan anak saya Falya yang sekarang duduk di bangku SMP kelas 2 untuk membaca buku ini. Baru bab-bab awal saja dia sudah terpesona dengan sepak terjang CT.
Anak-anakku... Kami orang tuamu hanya bisa berdoa dan berusaha memberikan yang terbaik bagi kalian. Pendidikan yang terbaik, sekolah informal apapun selama kalian masih sanggup membagi waktu akan kami berikan meskipun kami harus menekan budget pengeluaran untuk kebutuhan konsumtif. Kalian adalah yang utama. Belajar dari pengalaman orang lain, belajar dari pengorbanan dan usaha ibu saya dulu memberikan saya pendidikan yang terbaik di tengah keterbatasan ekonomi menjadi contoh bagi kami bahwa pendidikan adalah Investasi... Insya Allah selama masih di jalan yang benar, dari uang yang halal, Allah akan meridhoi langkah kita menuju kesuksesan. Aamiin...
Widifayra
Mau Langsing dengan Nutrisi Sehat Alami?
Just klik
Labels: anak, belajar bisnis, binis, biografi, buku Chairul Tandjung si Anak Singkong, Chairul Tandjung, CT, from zero to hero, Pendidikan, SMP Van Lith, transcorp
|
posted by Widifayra @ 8:21 am  |
|
|
|
| Multi Language |
| Monday, August 13, 2012 |
Multi Language
"Bahasa adalah Jendela Dunia", pepatah yang sudah sering kita dengarkan sejak dulu. Pepatah ini tentu benar adanya. Menurut Stephen Juan, Phd-antropolog dari universitas Sidney- ada sekitar 6800 bahasa di dunia. Di Indonesia sendiri ada 742 bahasa daerah dan hanya 13 bahasa daerah yang penuturnya di atas 1 juta orang. Wuihhh banyak ya...
Saya berasal dari propinsi Sulawesi Selatan yang mana terdapat 4 bahasa daerah di sana: Bugis, Makassar, Mandar, Toraja. Ayah saya berasal dari suku Sengkang yang menggunakan bahasa Bugis dan ibu saya dari kabupaten Enrekang. Karena ayah saya sejak saya kecil sudah divorced dengan ibu saya otomatis saya tidak bergaul dengan keluarga ayah saya sehingga saya tidak bisa berbahasa Bugis. Di keluarga ibu saya terutama nenek saya dulu menggunakan bahasa Enrekang jika berbicara dengan ibu saya dan tante-tante saya. Sayangnya hanya ibu saya dan kakak ibu saya yang fasih, sementara adik-adik ibu hanya mengerti namun tidak fasih berbicara. Oh ya Bahasa Enrekang sebenarnya tidak 'diakui' sebagai bahasa daerah resmi di Sul-Sel. Bahasa ini mirip dengan bahasa Toraja mungkin sekitar 70% namun sangat berbeda dalam dialek. Beberapa kata juga berbeda. Saya sendiri cukup mengerti bila mendengar percakapan bahasa Enrekang namun sangat kaku dalam berbicara. Saya hanya bisa beberapa kalimat pendek yang sering saya dan ibu saya dulu gunakan jika kami ingin ngomong rahasia. Namun jangan tanya untuk bahasa Bugis dan Bahasa Makassar (2 bahasa yang paling banyak penggunanya di Sul-Sel), saya tidak bisa sama sekali. Mungkin saya mengerti 1-2 kalimat yang umum dipakai sehari-hari namun saya tidak mengerti jika sudah dalam bentuk kalimat panjang. Inilah salahnya karena tidak ada keharusan bagi kami dan juga tidak dipakai dalam keluarga maka kedua bahasa daerah ini saya tidak bisa. Tambahan lagi sebenarnya bahasa dalam keluarga kami belum tepat dikatakan bahasa Enrekang karena kampung ibu saya di desa Duri kabupaten Enrekang, nah bahasanya sedikit beda lagi dengan bahasa Enrekang. Betapa kayanya bahasa daerah ya....
Saat saya kuliah di Bogor, saya bergaul dengan orang Sunda dan sering mendengar mereka bercakap sehingga lama kelamaan saya jadi mengerti bahasa Sunda meski bahasa yang pasaran (istilahnya Sunda Kasar). Ngomong pun bisa dikit-dikit, yahhh lumayan bisa ngomong dikitlah kalau tawar menawar dengan penjual yang orang Sunda. Bahasa Jawa ya dikit-dikit juga ngertinya karena mertua saya sering ngajak saya ngomong bahasa Jawa walau awalnya saya tidak mengerti. Sementara untuk bahasa International, saya 'bisanya' bahasa Inggris. Maklum bahasa ini masuk dalam peajaran wajib sejak saya kelas 1 SMP (th 1986). Sampai tahun 2010 saya sangat pasif berbahasa Inggris walau sudah mempelajarinya selama 24 tahun! Pasif dalam artian mengerti jika harus membaca (karena waktu kuliah dulu text book yang dipakai kebanyakan buku impor) namun tidak bisa ngomong sampai akhirnya saya cukup bisa speak in English setelah anak saya Khayra sering kali mengajak saya ngomong Bahasa Inggris sejak dia belum genap 4 tahun.
Ibu saya sendiri menguasai 4 bahasa. Bahasa daerah tapi hahaha.... Jadi ibu saya mampu bercakap-cakap dengan fasih ke-4 bahasa daerah di Sul-Sel + bahasa Enrekang/Duri (keempat bahasa tersebut sangat berbeda!). Beda dengan tante-tante saya yang tidak sefasih ibu saya. Hal ini karena ibu saya yang cukup aktif di organisasi dulu rajin praktek ngomong bahasa daerah ke teman-temannya.
Jadi intinya bahasa adalah praktek-praktek-praktek. Sepintar apapun belajar segala grammar bahasa kalau tidak bisa ngomong yang belum bisa dikatakan menguasai suatu bahasa dan untuk bisa fasih ngomong tentu saja harus praktek.
Saya juga pernah membaca literatur yang mengatakan bahwa mempelajari bahasa lain selain bahasa ibu (bahasa asing atau bahasa daerah) membantu melatih otak kanan. Jadi sebenarnya mempelajari berbagai bahasa sangat-sangat berguna karena selain mempermudah dalam sosialisasi juga membuat kapasitas otak kanan semakin besar.
Untuk bahasa asing tidak bisa dipungkiri bahwa penguasaan bahasa Inggris sekarang adalah mutlak. Sebagai bahasa Internasional, penguasaan bahasa ini sangat berguna dalam mempelajari sesuatu entah dari buku-buku berbahasa asing juga dari informasi di internet. Anak-anak sekarang sudah diajarkan bahasa Inggris dari kelas 1 SD dan untuk sekolah swasta dan RSBI sudah mempelajari Bahasa Mandarin sejak kelas 1 SMP. Sayangnya metode yang digunakan dalam belajar bahasa Inggris (terutama di SDN) masih sama dengan metode jaman dulu yang tidak juga membuat sang murid fasih bercakap.
Berkaca dari pengalaman saya dan juga anak pertama saya maka anak yang kedua/bungsu saya sekolahkan di sekolah yang national plus, yang menggunakan Bahasa Inggris aktif dan juga bahasa Indonesia. Hasilnya anak saya (yang memang sebelum sekolah pun sudah bisa speak dalam bahasa Inggris) fasih dalam percakapan. Saya dan kakaknya banyak belajar darinya. Sementara anak pertama saya yang bahasa Inggrisnya pas-pasan (karena dari SDN) sudah lumayan peningkatannya setelah sekolah di SMPN RSBI yang mewajibkan pelajaran math dan science dalam Bahasa Inggris.
Sayangnya masih banyak yang protes dengan memasukkan Bahasa Inggris sebagai Bahasa pengantar dalam 2 mata pelajaran itu. Saya heran memangnya kenapa sih. Toh mempelajari bahasa asing tidak mengurangi rasa nasionalisme. Orang-orang yang protes selalu mengatakan lihat Jepang yang rakyatnya yang sangat bangga dengan bahasanya sampai-sampai mereka merasa tidak perlu belajar bahasa asing (orang Jepang jarang yang bisa bahasa Inggris). Waduhhhh Indonesia dibandingkan dengan Jepang. Jepang negara maju dimana negara lain butuh Jepang dalam berbagai hal terutama teknologi. Sementara Indonesia? walaupun Indonesia kaya raya dalam sumber daya alam namun tidak maju juga karena banyaknya koruptor di Indonesia. Banyak orang kaya karena korupsi dan tidak tahu malu. Di Jepang kalau gagal memimpin apalagi terlibat skandal korupsi atau lainnya, mereka sampai bunuh diri karena budaya malu yang sangat melekat di masyarakat. Jadi Indonesia sampai detik ini masih juga posisinya di bawah, sangat membutuhkan negara lain (terutama USA, tunduk banget dengan negara itu). Karena kita yang butuh makanya kita mempelajarilah bahasa negara itu supaya kita bisa berhubungan dengan mereka.
Sekarang anak saya yang pertama sedang mendalami Bahasa Jepang dan alhamdulillah lulus seleksi schoolarship ke Jepang bulan Oktober nanti selama 10 hari. Anak saya yang kedua juga belajar Bahasa Mandarin di sekolahnya dan bahasa Arab (ini sih wajib sebagai moeslim) di TPA. Senang rasanya jika anak-anak saya bisa berbagai bahasa. Sama sekali bukan untuk gaya-gayaan. Memang ada harga yang harus kami keluarkan untuk itu semua, namun sepadanlah dengan apa yang didapat. Sayangnya kedua anak saya akhirnya tidak bisa bahasa daerah karena saya sendiri tidak bisa dan papanya karena jarang di rumah juga tidak terbiasa ngomong bahasa Jawa (walaupun dia bisa).
Bahasa adalah jendela dunia. Semoga dengan menguasai berbagai bahasa anakku dapat membuka jendela dunia dan mengambil segala kebaikan yang dilihatnya untuk kesuksesan mereka di dunia akhirat. Aamiin...
Widifayra
Mau Langsing dengan Nutrisi Sehat Alami?
Just klik
Labels: anak, Bahasa Inggris, belajar bahasa, belajar bahasa asing, Pendidikan
|
posted by Widifayra @ 7:46 pm  |
|
|
|
| Sekolah Negeri atau Sekolah Swasta? |
| Sunday, June 24, 2012 |
Sekolah Negeri atau Sekolah Swasta?
Saya dan suami adalah hasil produk sekolah negeri dari SD sampai Sarjana bahkan sampai suami saya S2. Dulu sekolah negeri masih bayar walaupun tentu saja bayarannya sangat murah dibandingkan swasta (kecuali saat S2, itu pun gratis beasiswa dari kantor). Maklum orang tua kami berdua juga hanya PNS yang gajinya pas-pasan. Ibu saya guru SMA dan single parent sementara bapaknya suami saya adalah anggota TNI. kebayang kan gaji mereka berapa. Saya lupa SPP SD-SMA. Saya hanya ingat SPP saat kuliah di IPB (1992-1997) yakni 180rb/6 bulan. Muraaahhhh....
Saat anak saya masuk SD, saya pun inginnya memasukkan di sekolah negeri namun yang favorite. Waktu itu kami tinggal di Balikpapan dan SDN terkeanal yakni SDN 01 Gunung Pasir. Walaupun anak saya lulus test namun umurnya yang baru 5 tahun 4 bulan saat masuk tahun ajaran membuat kepala sekolah memanggil saya dan meminta maaf anak saya tidak bisa masuk sekolah itu karena terlalu muda. Saya akhirnya memasukkan ke SD swasta yang cukup bagus di kota itu, masih tetanggan dengan SDN 01, yakni SDS YBBSU. Dua tahun di sekolah itu kami pindah ke Jakarta dan langsung masuk SD negeri. Alasannya karena lokasi sekolah dan komplek kami berdampingan jadi bibi yang kerja di rumah waktu itu bisa menjemput anak saya. Maklum kami tidak punya supir dan saya masih kerja kantor. Kualitas sekolah itu jauh di bawah SDS YBBSU Balikpapan (Padahal SDN di Jakarta gitu lho...kalah sama SDN daerah). Alhasil anak saya yang biasanya rangking 15-20 di Balikpapan langsung melejit jadi rangking 1 hahaha....
Mau pindah sekolah saya belum tahu sekolah mana yang bagus. Waktu itu akses internet masih belum semudah dan semurah sekarang. Hanya bisa internetan dari kantor. Hp belum ada yang bisa internet (setahu saya). Internet dari rumah bisa sih pakai telkomnet instan (dari telpon rumah) berbasis time padahal lelet... jadinya kena mahal banget kalau mau internetan.
Sempat sih 2-3 tahun kemudian ngobrol dengan ibu-ibu yang anaknya di Al-Azhar. Busyet biaya masuknya sampai belasan juta dan bulanannya 500-700rb. Waktu anak saya di SDS YBBSU sebulan hanya Rp.90rb + jemputan Rp.200rb. Karena membandingkan dengan sekolah Falya dulu di Balikpapan saya menganggap demikianlah range biaya sekolah swasta di Jakarta walaupun dengan kualitas yang belum tentu lebih bagus.
Suatu waktu saya ngobrol dengan teman saya. Anaknya sekolah di SD swasta berbasis agama juga yakni di Muhammadiyah. Alasannya karena umur anaknya belum genap 6 tahun saat masuk SD. Alasan lain karena merasa bersalah bila sekolahin anak di SDN. Ini juga diberitahu oleh tetangganya. Jadi saya, teman saya dan tetangganya itu adalah istri-istri yang mana suami–suami kami berkantor di tempat yang sama. Bersalahnya karena kami masih mampu sekolahkan anak di sekolah swasta yang biayanya masih sama dengan biaya sewaktu anak di TK (TK pasti swasta kan?). Biarlah sekolah negeri untuk yang memang tidak mampu bayar seperti anak supir angkot, penjual sayur di pasar, para pembantu, penjual jamu, pemulung yang banyak tinggal di sekitar komplek kami.
Hhmm benar juga. Coba bayangkan, jika jatah sekolah itu hanya 30 anak misalnya. Lalu anak kita ikut mendaftar dan diterima berdasarkan seleksi umur, sementara kita tidak tahu apakah ada anak lain yang ekonomi orang tuanya lebih di bawah yang ikut mendaftar dan akhirnya menjadi tidak diterima. Kalaupun diterima di SDN mungkin yang jaraknya lebih jauh dan membutuhkan ongkos transport atau anak itu harus jalan kaki. Lain halnya jika tidak ada SD swasta yang bagus di sekitar rumahnya barulah bisa dimasukkan di SDN. Tapi setidaknya jika masih memungkinkan supaya kita bisa memberikan kesempatan kepada orang yang lebih butuh. Saya tidak mengatakan bahwa jika memasukkan di SDN berarti mengambil jatahorang yang lebih butuh tapi setidaknya menjadi salah satu cara untuk beramal.
Saya ingat waktu kuliah dulu. Banyak banget penawaran beasiswa untuk yang IPK-nya >3. IPK saya selalu di atas 3 (sejak saya pindah jurusan ke Sosek) tapi saya tidak pernah mengajukan beasiswa. Harusnya saya bisa mengajukan beasiswa karena ibu saya hanya seorang guru SMA negeri dan sudah tidak ada suami. Mana ibu saya harus keluar biaya untuk membayar kost dan kebutuhan saya di Bogor. Alhamdulillah ibu saya selain guru juga berdagang jadi ada sedikit tambahan. Allah juga memberikan rezekinya kepada saya lewat keluarga ibu saya di Jakarta yang selalu membantu kebutuhan saya selama kuliah. Intinya saya merasa sudah cukuplah kecuali jika mau boros ya ga cukup. Seorang teman saya yang kedua orang tuanya masih ada dan kerja, juga bapaknya memegang jabatan sebagai kepala sebuah kantor. Selain itu keluarga mereka punya bisnis kost-kostan dan bisnis lainnya. Herannya teman saya masih tetap mengajukan beasiswa. Nilainya sih kalau tidak salah Rp.100rb/semester. Seingat saya waktu saya kost bayarnya antara 70rb-100rb/bln. Kalau dikonversi ke masa sekarang biaya kost rata-rata 700rb/bulan, mungkin beasiswa besarnya 1jt/semester. Bagi yang sudah cukup uang segitu paling habis buat makan atau beli baju tapi betapa berartinya bagi mereka yang memang dari kalangan tidak mampu. Hati nurani saya menolak menerima uang itu. Teman saya yang lain juga ada yang dari kalangan berada dan tetap menerima beasiswa. Katanya beasiswa itu gengsi karena penerima beasiswa dianggap pintar. Bagi saya mengakuan pintar atau tidak rasanya ga perlu jika saya harus mengorbankan kesempatan bagi orang lain.
Bagaimana dengan beasiswa ke luar negeri. Kalau ini rasanya wajar kalau saya mengajukan. Biayanya muahalll bagi ukuran kantong kami sekarang. Kabarnya bisa di atas 2-3 Milyar saat Falya kuliah nanti. Kalau ini saya belum mampu. Semoga Allah berkenan memberikan kesempatan itu kepada kedua anak saya untuk sekolah di negara yang mereka inginkan. Entah melalui beasiswa atau siapa tahu kami dapat rejeki nomplok hehe... Sudah mulai hunting nih beasiswa. Semoga dimudahkan oleh-Nya. Aamiin...
Widifayra
Mau Langsing dengan Nutrisi Sehat Alami?
Just klik
Labels: anak, beasiswa, Pendidikan, sekolah negeri, sekolah swasta
|
posted by Widifayra @ 7:24 am  |
|
|
|
| Pilih-Pilih Sekolah |
|
Pilih-Pilih Sekolah
Menjelang tahun ajaran 2012/2013 orang tua pasti sedang sibuk cari sekolah bahkan sudah dimulai dari beberapa bulan yang lalu karena sebagian besar sekolah swasta sudah menerima pendaftaran. Beberapa sekolah swasta bahkan sudah menerima pendaftaran sejak bulan Oktober tahun lalu. Bagi yang memang sudah mantap memilih sekolah swasta mungkin tidak masalah kecuali mungkin masalah pembayaran. Namun bagi yang masih berusaha untuk masuk sekolah negeri tentunya menjadi masalah karena pendaftaran/pengumuman penerimaan sekolah negeri baru di akhir bulan Juni. Kalau diterima ya syukur namun jika tidak diterima tentu orang tua akan kalang kabut mencari sekolah. Sekolah swasta yang masih menerima pendaftaran mungkin swasta yang bukan favorite atau sekolah swasta yang biayanya mahal. Dilema tentu. Hal ini juga yang saya rasakan baru-baru ini saat anak bungsu saya akan masuk SD. Setelah uang gedung sekolah swasta itu saya lunasi, 2 minggu kemudian pengumuman bahwa anak saya lulus di SD Negeri RSBI. Sempat bimbang namun saya akhirnya memilih SD Swasta.
Kegalauan yang juga dirasakan teman saya yang anaknya tidak lulus di SMPN RSBI/SBI padahal NEMnya cukup tinggi, rata-rata 9. Tidak lulus karena nilai testnya di SMPN tersebut kecil padahal bobot hasil test 60% dan NEM hanya 40%. Untungnya pendaftaran SMPN SSN dan regular masih dibuka yang mana dasar penerimaannya berbasis NEM.
Pemilihan sekolah terutama untuk SMP dan SMA cukup penting karena pelajaran SMP dan SMA sudah cukup sulit. Fakta membuktikan bahwa lulusan SMP dan SMA favorite banyak yang diterima di perguruan tinggi ternama dalam negeri bahkan banyak yang mendapat beasiswa ke luar negeri. Selain itu link teman-teman dari sekolah favorite sedikit banyak berguna kelak saat mencari relasi bisnis atau saat bekerja nanti.
Lalu bagaimana jika kurang beruntung mendapatkan sekolah favorite? hhmm tidak perlu berkecil hati karena banyak jalan menuju Roma hehe... Lulusan sekolah favorite juga banyak yang failed di dunia kerja, tergantung individu juga koq. Di dunia tanpa batas sekarang ini, ilmu bisa diperoleh dari mana saja. Justru membuat jadi kreatif untuk mencari tahu sebanyak mungkin peluang meningkatkan kualitas diri. Menjadi lebih semangat untuk menyamai murid yang bersekolah di sekolah favorit. Dari internet buanyakkkkk banget ilmu bisa diperoleh. Makanya banyak sekarang yang memilih home schooling terutama yang sudah bisa mempunyai penghasilan di masa sekolah seperti para artis muda. Namun kalau di sekolah kita belajar bekerjasama dengan teman, belajar menghadapi berbagai karakter teman: hal yang memang diperlukan di dunia nyata. Jadi semua tergantung niat sang anak, mau maju atau biasa-biasa saja? Kalau mau maju ayo berusaha dengan tidak tergantung kepada sekolah maupun lingkungan. Anak pertama saya juga hanya sekolah regular namun saat melanjutkan sekolah bisa lulus test dengan nilai lumayan. Karena tidak bisa mengandalkan sekolah maka saya membekali anak saya dengan pendalaman materi baik melalui internet dll. Saya bilang ke anak saya jika sekolah atau lingkungan tidak bisa kita harapkan maka kitalah yang harus berusaha sendiri. Jangan tergantung dari orang lain. Keuntungan bila bersekolah di sekolah favorite yakni kita bergaulnya dengan orang –orang pintar/smart tentunya akan berpengaruh dalam sikap kita juga. Juga bisa memberikan semangat untuk maju bersama-sama. Kalau lingkungan kita positive kan lebih mudah untuk kita menular jadi positif. Kalau cuma sedikit yang mau maju apalagi kalau hanya kita sendiri tentu effortnya lebih besar. Belum lagi godaannya dari teman-teman.
So, mau sekolah favorite atau tidak tergantung kita kan? kalau kita sukses kelak , kita juga yang merasakan, jadi effort dari diri sendiri memang yang paling menentukan kesuksesan diri kelak.
Widifayra
Mau Langsing dengan Nutrisi Sehat Alami?
Just klik
Labels: anak, penddikan, Pendidikan, SDN reguler, SDN RSBI, sekolah, sekolah favorit, SMPN RSBI
|
posted by Widifayra @ 7:13 am  |
|
|
|
| Leukosit Turun Dengan Obat Alami |
| Thursday, June 21, 2012 |
Leukosit Turun Dengan Obat Alami
Kembali saya ingin menceritakan khasiat obat alami yang sudah dirasakan Khayra.
Tiga minggu yang lalu Sabtu 27 Mei 2012 pagi hari saat bangun tidur Khayra mulai sedikit batuk. Karena batuknya hanya sesekali, saya tidak terlalu menghiraukan dan tetap pada rencana semula untuk jalan-jalan. Maklum pap baru datang semalam jadi seperti biasa Sabtu pasti dipakai jalan. Nah hari itu rencananya kami akan ke PIM setelah menjemput kk Falya yang sedang ekskul Bahasa Jepang di sekolah. Saya juga diundang pertemuan oleh sensei. Di sekolah Falya, Khayra sempat mondar mandir di lapangan yang panas dan berangin sambil menunggu saya rapat dengan sensei. Dari sekolah Falya kami meluncur ke Panglima Polim untuk makan sate yang cukup terkenal di daerah itu. Berhubung dari panglima Polim ke PIM macet banget, kami merubah tujuan ke rumah mertua saya di Pondok Gede. Sepanjang perjalanan Khayra tidur dan berlanjut sampai di rumah mertua. Ternyata Khayra demam sehingga rencana ke PIM batal dan langsung pulang ke rumah.
Karena Khayra panasnya karena batuk maka saya memberikan obat actived. Sebenarnya saya sudah beberapa bulan menghindari obat kimia, namun saya ingin Khayra cepat sembuh berhubung hari Senin kami sekeluarga akan membuat Paspor di kantor Imigrasi Jakarta Barat yang letaknya di Kota. Pembuatan paspor tidak bisa ditunda lagi karena sensei sudah akan menyerahkan ke Japan Foundation sehubungan dengan rencana keberangkatan Falya ke sana bulan Oktober. Minggu sore saya baru memberikan ramuan juice papaya kepada Khayra untuk menurunkan panasnya. Senin pagi panasnya sudah mulai turun dan karena pagi-pagi banget kami harus meluncur ke kantor Imigrasi dan demi menjaga supaya panasnya tidak menaik saat kami sedang sibuk mengurus paspor, maka pagi itu saya memberikan obat panas. Obat daun papaya tetap saya berikan. Di kantor Imigrasi Khayra sempat mimisan dan badannya sedikit hangat. Berhubung Khayra tadi mimisan sepulang dari kantor Imigrasi, saya mampir membelikan larutan penyegar cap B. Saya pun membuatkan jamu kunyit+jahe+kencur+10 lembar daun sirih untuk Khayra. Bukankah kunyit dan daun sirih adalah antibiotic alami? Saya hampir saja menyerah untuk memberikan antibiotic. Rencananya besok jika Khayra masih demam walaupun telah saya berikan antibiotic alami, maka terpaksa antibiotic kimia saya berikan. Selasa pagi suhu tubuh Khayra semakin mendekati normal dan Alhamdulillah sorenya sudah benar-benar normal walaupun masih batuk dan flu.
Berhubung Khayra selalu bersama saya maka saya pun ikut kena flu lalu menular ke kakak Falya. Saat saya mulai sembuh, kk Falya flu-nya masih berat sehingga kembali nular ke saya. Saya flu nyaris 2 minggu. Tiba –tiba kembali di hari Sabtu 9 Juni, tepat 2 minggu dari waktu Khayra demam, kembali suhu badan Khayra menaik. Herannya kali ini tanpa didahului batuk maupun pilek. Penyebabnya saya kurang tahu yang jelas Khayra demam sepulang main ke rumah tetangga di blok yang berbeda. Saya ijinkan karena sudah seminggu Khayra sehat walafiat walaupun saya dan kakaknya flu. Awalnya saya kira dia akan bermain dalam rumah tapi ternyata mereka main sepatu roda di jalanan dan baru saya ketahui saat malamnya dia bercerita. Sore itu cuaca memang mendung dan angin cukup kencang. Saya pikir mungkin masuk angin dank arena saya dan kakaknya masih flu sementara kami bertiga tidur sekamar, mungkin saja ada virus atau bakteri dormant yang pindah ke badan Khayra dan langsung bangun saat kena angin dan Khayra yang kelelahan bermain. Seperti biasa saya mengandalkan obat alami jamu, larutan penyegar dan juice daun papaya. selama hari minggu walau sedikit demam (sekitar 37-an) Khayra tetap aktif bermain di rumah.
Senin pagi kelihatannya Khayra sudah baikan dan saya tawarkan apakah mau ke sekolah. Khayra mengeluh masih pusing. Sekitar jam 9 panasnya naik mencapai 38.4. Saya masih bertahan tidak memberi obat panas dan membiarkan panas tubuhnya yang ‘membunuh’ virus atau bakteri di badannya. Jam 10 Khayra mulai merasa tidak nyaman. Terlihat dari matanya yang memerah dan merasa kedinginan. Saya memutuskan ke RS untuk periksa darah, takutnya DB karena panas kali ini tanpa disertai flu. Sebeum ke dokter saya cek suhunya sudah mencapai 38.6 sehingga saya terpaksa memberikan obat panas kimia. Karena saya peserta inhealth maka terlebih dahulu saya ke kantor untuk meminta pengantar dari dokter keluarga ke dokter spesialis anak. Saat berkonsultasi dengan dokter umum (yang masih muda banget orangnya) sang dokter menyarankan untuk memberikan obat panas jika suhunya sudah diatas 37.5, ditakutkan anak mengalami kejang. Hhmm pernyataan yang berbeda dengan yang saya pelajari di milis sehat bahwa saat anak panas, usahakan untuk tidak memberikan obat penurun panas jika anak masih terlihat ‘nyaman’ walaupun suhunya sudah mencapai 38. Biarkan panas tubuhnya yang membunuh penyakit di badannya. Saya sendiri sudah mempelajari daya tahan anak saya sehingga sampai dengan 38.4 biasanya saya masih bertahan tanpa obat penurun panas. Alhamdulillah Khayra juga tidak ada sejarah pernah kejang. Setelah mengantongi surat rujukan untuk tes lab dank e dokter spesialis, kami segera meluncur ke RS. MPH. Alhamdulillah hasil test darah trombositnya bagus dan test DBnya dengan ig juga negative. Hanya leukositnya yang tinggi menunjukkan adanya infeksi. Biasanya disebabkan bakteri dana dokter akan memberikan antibiotic. Benar saja dokter memberikan antibiotic dan obat flu/batuk karena katanya saluran pernafasannya terlihat meradang. Hati saya menolak memberikan antibiotic dan mencoba tetap mencoba antibiotic dari daun sirih dan kunyit juga oil aromatheraphy. Hanya obat flu/batuk yang saya berikan.
Senin malam (berarti sudah 2x24), Khayra masih demam hanya saja sudah di bawah 38.6, mungkin sekitar 38.3 tapi Khayra sudah tidak gelisah sehingga saya tidak lagi memberikan obat penurun panas kimia kecuali juice daun papaya. Larutan penyegar dan jamu/antibiotic alami tetap saya berikan per 2 jam. Saat Khayra tertidur, saya sempat nangis dan memohon pada Allah SWT agar Khayra-ku kembali sehat tanpa antibiotic. Tengah malam Khayra terbangun untuk pipis dan saya yang susah untuk kembali tidur iseng membuka facebook. Kebetulan saya membuka postingan seseorang yang menuliskan tentang kekuatan energy. Saya kemudian masuk ke link-nya. Postingan di web itu membangkitkan kembali ingatan saya akan kekuatan energy, kekuatan pikiran yang bisa menyembuhkan penyakit. Dulu saya pernah ikut pelatihan energy reiki sekitar 6 tahun lalu. Tapi saya malas latihan jadi sensitifitas menarik energinya tidak terasah. Apa yang saya pelajari dulu pada dasarnya sama saja dengan berbagai ilmu tentang energy, tentang Low of Attraction, kekuatan pikiran, quantum ikhlas dll yang lagi marak belakangan ini. Tidak ada salahnya saya coba terapkan ke Khayra di tengah kepasrahan saya malam itu. Saya lalu membayangkan menyalurkan energy ke badan Khayra dan energy tsb membersihkan badan Khayra, darah Khayra sehingga kembali bersih. Saya fokuskan ke bagian tenggorokan yang kata dokter meradang. Saya melakukan sampai kemudian saya tertidur.
Pagi harinya badan Khayra berkeringat walau masih demam sekitar 37.6. Alhamdulillah, yang jelas kata Khayra,” Feel better, Mommy”. Saya masih melanjutkan dengan memberikan jamu antibiotic, larutan penyegar, teh hangat, oil aromatheraphy dan juice daun pepaya serta obat pilek (saya pakai actived). Siangnya suhu badan Khayra semakin membaik dan malamnya sudah normal ke angka 35-36. Syukur tak terkira, Khayra kembali bisa melewatkan penyakit ini tanpa antibiotic.
Saya ingat waktu bulan Maret, Khayra juga demam dan hasil pemeriksaan leukositnya 14rb dari normal max 13rb. Waktu itu saya ke dokter B dai RS.MPH dan dikasih antibiotic. Waktu itu saya masih meyakini bahwa bila terjadi peradangan karena bakteri (ditandai dengan tingginya leukosit) maka pengobatan harus dengan antibiotic. Ternyata keyakinan saya terbantahkan karena Khayra bisa sembuh tanpa antibiotic padahal leukositnya mencapai 18rb.
Saya tidak tahu Khayra sembuh karena memang sudah waktunya sembuh alami (di hari ke-3), atau karena obat alami yang saya berikan atau karena energy yang saya salurkan. Yang jelas apapun itu, semua karena Allah SWT yang sudah menyembuhkan Khayra. Alhamdulillah...
Widifayra
Mau Langsing dengan Nutrisi Sehat Alami?
Just klik
Labels: anak, energy, jamu, jamu antibiotik, juice daun pepaya, kekuatan pikiran, Khayra, LOA, low of attraction, obat alami, obat panas alami, obat penurun panas, reiki
|
posted by Widifayra @ 11:26 pm  |
|
|
|
|
|