FalyaNow my-Falya is... Lilypie Kids birthday PicAnd my-Khayra is...
Tulisan di blog ini hanya merupakan sharing dari saya. Tidak bermaksud menggurui siapapun. Jika bermanfaat, alhamdulillah. Jika tidak sesuai dengan pendapat Anda, saya mohon maaf dan agar dilupakan saja. Terima kasih...
Sekolah Negeri atau Sekolah Swasta?
Sunday, June 24, 2012
Sekolah Negeri atau Sekolah Swasta?

Saya dan suami adalah hasil produk sekolah negeri dari SD sampai Sarjana bahkan sampai suami saya S2. Dulu sekolah negeri masih bayar walaupun tentu saja bayarannya sangat murah dibandingkan swasta (kecuali saat S2, itu pun gratis beasiswa dari kantor). Maklum orang tua kami berdua juga hanya PNS yang gajinya pas-pasan. Ibu saya guru SMA dan single parent sementara bapaknya suami saya adalah anggota TNI. kebayang kan gaji mereka berapa. Saya lupa SPP SD-SMA. Saya hanya ingat SPP saat kuliah di IPB (1992-1997) yakni 180rb/6 bulan. Muraaahhhh....

Saat anak saya masuk SD, saya pun inginnya memasukkan di sekolah negeri namun yang favorite. Waktu itu kami tinggal di Balikpapan dan SDN terkeanal yakni SDN 01 Gunung Pasir. Walaupun anak saya lulus test namun umurnya yang baru 5 tahun 4 bulan saat masuk tahun ajaran membuat kepala sekolah memanggil saya dan meminta maaf anak saya tidak bisa masuk sekolah itu karena terlalu muda. Saya akhirnya memasukkan ke SD swasta yang cukup bagus di kota itu, masih tetanggan dengan SDN 01, yakni SDS YBBSU. Dua tahun di sekolah itu kami pindah ke Jakarta dan langsung masuk SD negeri. Alasannya karena lokasi sekolah dan komplek kami berdampingan jadi bibi yang kerja di rumah waktu itu bisa menjemput anak saya. Maklum kami tidak punya supir dan saya masih kerja kantor. Kualitas sekolah itu jauh di bawah SDS YBBSU Balikpapan (Padahal SDN di Jakarta gitu lho...kalah sama SDN daerah). Alhasil anak saya yang biasanya rangking 15-20 di Balikpapan langsung melejit jadi rangking 1 hahaha....

Mau pindah sekolah saya belum tahu sekolah mana yang bagus. Waktu itu akses internet masih belum semudah dan semurah sekarang. Hanya bisa internetan dari kantor. Hp belum ada yang bisa internet (setahu saya). Internet dari rumah bisa sih pakai telkomnet instan (dari telpon rumah) berbasis time padahal lelet... jadinya kena mahal banget kalau mau internetan.

Sempat sih 2-3 tahun kemudian ngobrol dengan ibu-ibu yang anaknya di Al-Azhar. Busyet biaya masuknya sampai belasan juta dan bulanannya 500-700rb. Waktu anak saya di SDS YBBSU sebulan hanya Rp.90rb + jemputan Rp.200rb. Karena membandingkan dengan sekolah Falya dulu di Balikpapan saya menganggap demikianlah range biaya sekolah swasta di Jakarta walaupun dengan kualitas yang belum tentu lebih bagus.

Suatu waktu saya ngobrol dengan teman saya. Anaknya sekolah di SD swasta berbasis agama juga yakni di Muhammadiyah. Alasannya karena umur anaknya belum genap 6 tahun saat masuk SD. Alasan lain karena merasa bersalah bila sekolahin anak di SDN. Ini juga diberitahu oleh tetangganya. Jadi saya, teman saya dan tetangganya itu adalah istri-istri yang mana suami–suami kami berkantor di tempat yang sama. Bersalahnya karena kami masih mampu sekolahkan anak di sekolah swasta yang biayanya masih sama dengan biaya sewaktu anak di TK (TK pasti swasta kan?). Biarlah sekolah negeri untuk yang memang tidak mampu bayar seperti anak supir angkot, penjual sayur di pasar, para pembantu, penjual jamu, pemulung yang banyak tinggal di sekitar komplek kami.

Hhmm benar juga. Coba bayangkan, jika jatah sekolah itu hanya 30 anak misalnya. Lalu anak kita ikut mendaftar dan diterima berdasarkan seleksi umur, sementara kita tidak tahu apakah ada anak lain yang ekonomi orang tuanya lebih di bawah yang ikut mendaftar dan akhirnya menjadi tidak diterima. Kalaupun diterima di SDN mungkin yang jaraknya lebih jauh dan membutuhkan ongkos transport atau anak itu harus jalan kaki. Lain halnya jika tidak ada SD swasta yang bagus di sekitar rumahnya barulah bisa dimasukkan di SDN. Tapi setidaknya jika masih memungkinkan supaya kita bisa memberikan kesempatan kepada orang yang lebih butuh. Saya tidak mengatakan bahwa jika memasukkan di SDN berarti mengambil jatahorang yang lebih butuh tapi setidaknya menjadi salah satu cara untuk beramal.

Saya ingat waktu kuliah dulu. Banyak banget penawaran beasiswa untuk yang IPK-nya >3. IPK saya selalu di atas 3 (sejak saya pindah jurusan ke Sosek) tapi saya tidak pernah mengajukan beasiswa. Harusnya saya bisa mengajukan beasiswa karena ibu saya hanya seorang guru SMA negeri dan sudah tidak ada suami. Mana ibu saya harus keluar biaya untuk membayar kost dan kebutuhan saya di Bogor. Alhamdulillah ibu saya selain guru juga berdagang jadi ada sedikit tambahan. Allah juga memberikan rezekinya kepada saya lewat keluarga ibu saya di Jakarta yang selalu membantu kebutuhan saya selama kuliah. Intinya saya merasa sudah cukuplah kecuali jika mau boros ya ga cukup. Seorang teman saya yang kedua orang tuanya masih ada dan kerja, juga bapaknya memegang jabatan sebagai kepala sebuah kantor. Selain itu keluarga mereka punya bisnis kost-kostan dan bisnis lainnya. Herannya teman saya masih tetap mengajukan beasiswa. Nilainya sih kalau tidak salah Rp.100rb/semester. Seingat saya waktu saya kost bayarnya antara 70rb-100rb/bln. Kalau dikonversi ke masa sekarang biaya kost rata-rata 700rb/bulan, mungkin beasiswa besarnya 1jt/semester. Bagi yang sudah cukup uang segitu paling habis buat makan atau beli baju tapi betapa berartinya bagi mereka yang memang dari kalangan tidak mampu. Hati nurani saya menolak menerima uang itu. Teman saya yang lain juga ada yang dari kalangan berada dan tetap menerima beasiswa. Katanya beasiswa itu gengsi karena penerima beasiswa dianggap pintar. Bagi saya mengakuan pintar atau tidak rasanya ga perlu jika saya harus mengorbankan kesempatan bagi orang lain.

Bagaimana dengan beasiswa ke luar negeri. Kalau ini rasanya wajar kalau saya mengajukan. Biayanya muahalll bagi ukuran kantong kami sekarang. Kabarnya bisa di atas 2-3 Milyar saat Falya kuliah nanti. Kalau ini saya belum mampu. Semoga Allah berkenan memberikan kesempatan itu kepada kedua anak saya untuk sekolah di negara yang mereka inginkan. Entah melalui beasiswa atau siapa tahu kami dapat rejeki nomplok hehe... Sudah mulai hunting nih beasiswa. Semoga dimudahkan oleh-Nya. Aamiin...

Widifayra 
Mau Langsing dengan Nutrisi Sehat Alami?
Just klik

Labels: , , , ,

posted by Widifayra @ 7:24 am  
1 Comments:
  • At 13 July 2013 at 9:07 am, Anonymous Anonymous said…

    Hai mbak, saya pengen nanya lebih jauh ttg SDS YBBSU di Balikpapan. Boleh sms/an atau telf mbak? No ku 0877 9100 3494 -Vitry

     

Post a Comment

<< Home
 

LANGSING & SEHAT

TOKO BAJU ONLINE

TOKO BAJU ONLINE

RAHASIA RUMAH GRATIS

RAHASIA RUMAH GRATIS

KLIK DISINI RAHASIA MENDAPATKAN RUMAH GRATIS !!! GRATIS E-BOOK SENILAI Rp.200.000,- PERSEDIAAN TERBATAS !!!

BINGUNG MENGATUR KEUANGAN ANDA???

CHECK UP FINANCIAL

SOLUSINYA DISINI !!!

About Me

Widya Astuti's Profile
Widya Astuti's Facebook profile

Click My Profile Picture To See Me @ FACEBOOK

Name: Widifayra
Home: Pos Pengumben, Kb. Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta, Indonesia
About Me: Nama saya Widya Astuti, biasanya dipanggil WIDI. FAYRA adalah gabungan nama 2 putri saya(FAlya-12 th dan khaYRA6 th). Lulusan PTN di Bogor dan pernah bekerja di salah satu Bank Swasta di Jakarta sebagai marketing kredit. Saat ini sebagai WAHM (Work At Home Mom), berbisnis untuk lebih mengembangkan potensi diri...dengan dukungan rekan-rekan yang super hebat di komunitas TDA.
Email: widifayra@yahoo.co.id
Kategori
Previous Post
Links
Bisnis
Kesehatan
Pendidikan
Comments

count webpage visits
Aku Langsing




Member of

JOIN TDA

Rekan TDA